Sabtu, 28 Februari 2015

Bertepuk Tangan Sebelahan

Entah kenapa tiap kali saya serius dan ngebet banget naksir seseorang selalu berujung tidak jelas atau lebih tepatnya “ngenes”. Mungkin benar kata teman saya bahwa saya tidak mujur dalam perihal pilih memilih cinta. Dia pernah bersabda “Cinta itu dipilih, cynthia. Bukan memilih. Kalau memilih itu namanya bukan cinta, tapi calon DPR, ayo dipilih dipilih~” dan saya pun dengan girangnya memberi aplaus untuk kejeniusan kalimatnya tersebut dan macak anak sd dikasih susu milo gratis. Hebring.
 
Cinta bertepuk sebelah tangan sudah menjadi makanan saya sehari hari. Udah biasa banget rasanya kalau harapan mumbul tinggi, tiba tiba besok si harapannya mendadak ndlosor ngesor aja ditanah. Biasa banget. Iya. Meweknya juga jadi kebiasaan banget. (halah)

Mungkin mereka terlalu buta melihat pesona saya yang terpendam ini. Secara terpendamnya jarak 5 KM di bawah tanah. Sangar banget gak tuh? Yaiyalah mereka gak nyadar. Wong saya juga ga tahu kok pesona flora dan fauna saya ini dimananya. nyahahaha~

Singkat kata saya menyadari ketidakberuntungan ini bermula saat duduk di kelas satu SMA. Kata papa masa SMA itu masa masa paling indah. Tapi buat saya entah kenapa bukan yang paling indah di hidup saya, kebanyakan ngenesnya sih sampai mabok! Mungkin di jaman saya kata “paling”-nya lagi mudik, mungkin. 

Sebut saja namanya kriwul, dialah tersangka dimana keapesan ini bermula. Dia berkulit hitam legam, beneran kriwul dan merupakan mahluk absurd paling nyebelin kalau lagi duduk manis dikelas. Gimana ga sebel kalau dia duduk di bangku tepat dibelakang saya dan hobinya main-jambak-tarik-tusuk-cepol rambut saya. TIAP HARI! Rasanya pengen cakar cakar harimau aja bawaannya kalau lagi di bully sama dia tapi mendadak ga jadi marah karena dia mendadak senyum manis kedip menghiba kalau saya mau marah marah ataupun mau ngdemo dia minta turunin harga bakso dikantin.
Jangan bayangin sosok dia ganteng bin aduhai. Jangan! Karena aslinya dia sama sekali nggak ganteng tapi cukup manis lah buat dijadiin alternatif pengganti es tebu di depan sekolah. Dia anggota klub basket kenamaan sekolah kami dan entah siapa yang memberikan mandat atau mungkin pas nunjuk sambil ngupil asyik dan asal comot, dia terpilih menjadi kapten tim basket andalan sekolah! Piye ga kesemsem coba? Maklum saya pada era itu semacam terhipnotis film indonesia yang sedang booming kala itu yang menasbihkan bahwa anak basket, apapun rupanya, pasti keren! (tipikal anak alay sekali coy! Maklumin yak~)

Kejadian yang bikin saya total klepek klepek masih juga membekas diingatan sob, waktu itu kelas kami sedang pelajaran agama. Ibu guru kami sudah sangat sepuh sehingga tidak kuat berteriak memarahi tingkah kami yang ababil bin kanak kanak. Ada yang lari kejar kejaran didalem kelas, ada juga sekelompok cewek yang malah asyik main salon salonan sambil potong poni beneran disudut kelas yang lainnya. Kelas kami saat itu benar benar kacau balau dan beliau cuma sanggup geleng - geleng istigfar sembari mengelus papan tulis dan tetap mengajar seglintir murid yang duduk dibaris depan, ya sebagian dari kami yang kekeuh di jalan yang benar. Kala itu saya dilanda bosan berkepanjangan. Sambil kedip kedip mengamati kekacauan teman teman saya yang lebih pantas disebut arena badak lepas minta kawin, tiba - tiba mata saya tertuju pada sosok kriwul yang duduk manis di bawah meja. Penasaran, saya pun menghampirinya bak miss universe menyapa supir angkot yang lagi asyik ngisi TTS.

“wul, kamu ngapain kok ngesor disitu? Mau pedekate sama suster ngesor ya? Ciyeeeeee” sembari towel towel bahunya genit, lalu ikut duduk disebelahnya.

“inilho, aku lagi nyobain fitur baru dihapeku. Aku baru tau pas iseng ngutak atik menu dihapeku barusan. Eh hapeku uda 3G hlo~ ada kamera depannya lagi. Tuh liat masih mulus kan casingnya. Westalah apik tenan!” kriwul pun menceramahiku bak sales bintang lima

“emang fitur baru apa sih wul? Kok kayaknya seru banget?” mataku berkilat bundar pertanda penasaran minta dijodohin eh dijelasin maksudnya.

“fitur radio, ituloh buat dengerin lagu lagu. Hapeku canggih kan?”

“. . . “ 
 
Tanpa tendeng aling aling si kriwul pun masangin headsetnya yang sebelah ketelinggaku yang nganggur. Jantungku pun lompat tali jedag jedug dibuatnya. Sekilas ku lirik rambutnya yang menjuntai kriwil teriak teriak minta di rebonding, lalu seperkian detik mata kami pun beradu jotos eh bukan bukan maksudnya beradu pandang. Hatiku mendadak kaya es krim kepanasan, meleleh luber tak karuan. Masih ku ingat dengan jelas lagu yang berkumandang ditelinga kami saat itu lagu dari tante rheza arthamevia yang sepenggal liriknya berbunyi “ cintai diriku seperti aku mencintaimuuuuuu~” 

Sontak, kami pun lirik lirikan menyerupai adegan percontekaan saat ulangan harian. Aku lirik dia, dia pun melirikku, aku lalu melirik dia lagi, lalu guru kami pun ikut melirik pada kami berdua seakan minta diajak ikutan adu lirik. Pada menit tak terlupakan itu kami terdiam, maklum kami saat itu masih bocah, kami pun bingung hendak mengutarakan apa, lalu diam malu - malu anak gajah.
 
Sejak saat itu saya menaruh perasaan padanya, namun kadang tiba – tiba menguap sebal begitu saja saat ia menarik jilbabku dengan sengaja hingga tak keruan bentuknya (maklum saat itu saya jilbabers anyaran dan paling sedih kalo kudu mbetulin lagi karena belom jago) atau main sodok – pake – pencil – cemong semua di punggungku dari belakang. Ugh, gemas rasanya sampai kepengen ngrebonding rambut kriwulnya itu demi membalaskan dendam nyi blorong #Eh.

Namun perlakuan menyebalkannya itu mendadak menguap tatkala ia berjalan disamping mejaku dan menyempatkan menguyel – uyel kepalaku mesra atau hanya sekedar merampas binderku lalu mencorat – coret sengaja dengan gravity buatannya dan tak lupa mencela gravity buatanku sendiri.

Tingkahnya yang tak tentu itu jelas saja membuatku risau. Kalau istilah jaman sekarang sih saya dulu itu “digantungin”atau lebih parahnya lagi kena zona “friendzone”. Karena saya dulu adalah pribadi yang gak sabaran apalagi disuruh menunggu tanpa kepastian, akhirnya saya menerima pinangan dari kakak kelas untuk jadi pacarnya dan mencoba melupakan si kriwul ini.

Reaksinya pertama kali saat mengetahui saya sudah ada yang punya, dia ngambek dan menolak berbicara denganku selama seminggu. Aku yang kebinggungan akhirnya memilih tidak mengambil pusing kejadian itu dan menganggapnya “oh, mungkin si kriwul lagi dapet jadi lagi ga mau dibully”. Perang dingin itu berlangsung cukup lama dan puncaknya saat dia menulis puisi di sehelai kertas robekan milik pak rete, kawan sebangkunya dan menempelkannya di dinding tepat di belakangnya.

Aku yang penasaran, saat itu iseng membacanya saat ia pergi kekantin dan tengah mencoba memalak anak kelas lain seperti biasanya, saat pertama kali membacanya aku beneran ga paham apa maksudnya, maklum tulisan si kriwul ini sedahsyat rambutnya, alias total berantakan, dan saat saya meminta tolong titin (kawan karib sebangku-ku) untuk menerjemahkan tulisan alien itu sontak hatiku bak di iris – iris lalu di tongseng, nyesss sakit nujeb nujeb.

Aku seketika duduk bengong dikursinya yang kosong sembari titin heboh menepuk punggungku keras – keras (mungkin dia menyangka kalau punggungku ini layaknya kasur springbed minta digebuk, alamak! tangan kecilnya sukses membuat sekngkring – sengkring punggungku ini) ya, puisinya berisi tentang kekecewaannya dan intinya kalau dia sebenarnya menaruh hatiku padaku. Buyar sudah pertahananku, ingin rasanya jomblo mendadak dan membuatnya tersenyum girang namun jahil seperti biasanya lagi.

Apalah daya oatmeal sudah menjadi bubur, tak lama berselang, dia (si kriwul) ini jadian dengan teman sekelasku (sebut saja namanya bunga, nama lengkapnya bunga – bunga ditaman alangkah indahnya syalalalala~ #ehmalahdangdutan) dan setiap hari pas jam istirahat mereka asyik berdua – duan didepan mataku, kadang karma itu bekerja dengan cara yang lucu ya! *lalu nangis bombay*

Selepas derita si kriwil ini, kami pun berpisah, dia masuk kelas IPS dan aku terdampar hilang arah ke kelas IPA. Karena saya bukan bocah yang gemar hitung- hitungan akhirnya saya selalu berakhir dengan berangkat pagi – pagi dan asyik menjiplak jawaban temen kalo ada peer. Disitulah saya bertemu dengan sebut saja namanya mas gembul. Ia sesosok pria chubby partner bagi – bagi jawaban contekan dikala peer menumpuk minta disayang. 

Berkat ritual contek – mencontek itulah kami jadi dekat. Dia sesosok pria gaul yang hobi menggambar, tak ayal aku selalu meminta bantuannya dikala tugas kesenian mulai berulah. Mas gembul kala itu juga menyukai lagu metal seperti ku dan lagi gara – gara musik kami pun jadi dekat minta diembat #tsah
 
Saat itu pelajaran fisika, bapak gurunya tidak bisa hadir karena ada rapat dengan kepala sekolah dan membiarkan kami dlosoran di lantai di ruang aula (karena kelas kami seharusnya mempresentasikan materi siang itu) kulihat ada sebagian kawanku asyik mengerjakan LKS berjama’ah, ada pula yang asyik menggerombol asyik berdiskusi (atau lebih tepatnya nggosip terarah sesuai kurikulum kbk) dan ada juga yang hanya tidur bergeletakan begitu saja menikmati semburan AC bak pindang berjejer di pasar. Kala itu kulihat mas gembul asyik headsetan di pojokan. Aku yang saat itu tengah tergeletak bosan itu ahirnya memutuskan berglinding ke arahnya.

Saat melihat aksiku dia hanya tersenyum simpul, aku yang dalam posisi tengkurep lalu ndanggak menatapnya dan mulai berulah :

“mas gembul, mas gembul, lagi dengerin apa? Kepo nih” sembari memasang tampang anak kucing melas lengkap dengan mata menghibanya

“lagi dengerin musik”

“. . .”

(5 menit kemudian)

“mas gembul, mas gembul”

“dalem”

“katanya aku dikirimin lagunya bullet for my valentine, mana ih ga dikirim - kirim?
Lalu mendadak ia ikutan ngesor disebelahku dan tak lupa membagi headsetnya untukku seorang

“nih, ndengerin dewe. Ga boleh rewel” lalu seperti biasa ia menguyel – uyel kepalaku lalu memejamkan matanya dan berbaring diam dan momen ngesor – ngesor berdua itu membuatku jatuh ke perangkap pukat harimau, maklum kelemahan saya memang kalo diuyel – uyel kepalanya kayak anak kucing, bawaanya ngalem minta dipiara aja! Semenjak saat itu akhirnya aku menetapkan kalo naksir mas gembul beneran. Sepenuh jiwa dan raga, kalo perlu sama kentut - kentutnya juga!

Malang tak dapat diraih, eh maunya untung malah buntung. Setelah sekian lama berjibaku mendekati dirinya yang not responding tapi malah bikin tambah greget penasaran itu, akhirnya aku memberanikan diri nanya ke teman dekatnya. Jawabannya? Sungguh meremukan jantungku! Ternyata oh ternyata~ doi memendam rasa ke teman sekelas kami sebut saja namanya mbag yuyu. Kata temanku yang berperan sebagai informan ini, mas gembul sudah berusaha bertahun – tahun demi mendekati mbag yuyu namun selalu saja terjebak di zona “teman tapi mesra” alias kena jebakan betmen siapalagi kalo bukan pemeran utama kita yaitu : “friendzone” (jreng~jreng~jreng~) Pupus sudah harapanku. Semenjak informasi itu aku jadi tidak terlalu antusias jika naksir seseorang karena hasilnya selalu saja berakhir minta remidi. Ngenes coy!
 "Iyaaaa~"

Ini baru secuplik dari tumpukan kisah nyata tentang harapan yang melambung tinggi lalu akhirnya, nyungsep juga. Namanya juga hidup sob, kadang sesuai rencana, kadang di luar ekspektasi atau malah gagal total sama sekali. Yak inilah proses, tanpa mereka semua aku takkan bernyali dan menjadi seberani apa adanya diriku saat ini. terimakasih kalian! barisan mantan gebetan! Hahahaha Tunggu episode selanjutnya yak! Ciaooooo~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar