Sabtu, 28 Februari 2015

Sajak Senja



Senyum matahariku,
Hujan badai sore ini sederas rinduku padamu. Sekeras kilat yang menyambar. Lalu lalang dan menghilang. pohon kan tertiup, daun bergemrisik sayup sayup menghantar ku terhanyut dalam derasnya buaian hujan yang entah kemana akhirnya kan memeluk sauh. Hanya angin galak yang menamparku, mengembalikan angan yang gontai terseret realita.

Aku tercabik di ketidakhadiran senyummu yang untuk entah berjuta detik ku untai satu demi satu. Aku tak butuh kata cinta. Karena semua itu semu. Dapat musnah, dapat redup. Karena sejatinya cinta hanya milik Sang Khalik, Sang Maha yang menitipkan takdir untuk ku tenun satu demi satu. Ku harap namamu terselip di lembaran buku yang belum ku baca, yang entah masa depan kan mempertemukan kembali ku pada penyimpul satu senyum.  Senyum secerah matahari yang merebak di hatiku tanpa permisi. Punyamu.

Harap yang membuncah tak tahu arah sesaat ku cari di sekeliling arah, sosokmu, bayangmu, senyummu seketika menebar pilu merajam saat tak ku dapati apa yang memeluk harap. gundah tertawa terbahak bahak mencemooh ku yang memendam asa. Aku cuma ingin mencuri siluet di tengah ramai dan menukarnya dengan perasaan ringan di dada yang sekian lama ini menumpuk asa, sedikit demi sedikit. Sepotong demi seiris. 

Semoga pemilik rinduku baik baik saja di tepian senja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar