Sabtu, 28 Februari 2015

Hallo, Bang!


Hallo,
Pesona itu membekas bias begitu saja. Mengalihkan pandang aku yang tertunduk muram begitu lama. Kamu berlarian dalam benakku tersenyum dalam hatiku. Entah kau tahu atau tidak, aku tak peduli. Karena anganku bebas semauku walau ragaku terbelenggu diam membisu. Kharismamu melekat tanpa pamit begitu saja dalam babak hidupku. Kamu yang plegmatis namun menawan. Kamu yang cerdas tanpa menggurui. Kamu dan tiada henti hanya kamu. Kamu yang membuatku iri dengan kebebasan yang kau nikmati, yang membuatku gundah dengan pola pikirmu dan ideologimu yang membuat takjub. Ah gemas rasanya dalam keingintahuanku yang mendadak membuncah tak tahu arah.

Namun semangat itu mendadak meredup. Ketika ingat aku ini terbelenggu kata setia, kata cinta dan kepemilikian seseorang yang bahkan aku masih meragu apa risalah cinta itu, yang ku dengar kata orang mengagumimu itu cela, karena aku tak setia. Aaah menyebalkan. Aku masih muda dan toh cincin itu belum melingkar di jariku. Aku ingin mengagumimu dalam diam. Ingin memuaskan keingintahuanku yang berlebihan ini. Tak berharap balas ataupun lebih. Aku hanya ingin mengenalmu, berbicara bertukar pikiran membagi sisi duniaku yang tak biasa dan menikmati perspektif lain darimu, bertukar canda dan berpetualang bersama menjalin sahabat. Naïf bukan. Biar saja toh mimpi itu tanpa batas, bang. Paling tidak aku pernah mengabadikan pesonamu dalam untaian kalimat tak bertepiku ini.
" Quotes favoritmu, menarik "

Aku yang duduk di belakangmu, mengamatimu mengerjakan ujian yang maha susah. Aku yang mencuri senyummu diam diam. Aku yang di ramai kegelapan mencarimu. Aku yang menoleh saat kau berpendapat, aku yang kagum atas kata kata cermelang yang sedikit pun tak melintas di kepalaku yang tumpul ini, aku yang geli melihat tingkah konyolmu, aku yang mengharap bantuanmu yang tulus saat itu, aku yang tanpa ijin menganalisa perubahanmu dari waktu ke waktu. Aku yang ingin memiliki semangat sepertimu. Maafkan aku, aku tak pernah meminta persetujuan resmi atas kegiatan diam diamku ini, kawan. Sumimasen!
Kemungkinan itu tanpa batas.

Mungkin kau sudah punya tambatan hati, yang cantik jelita penuh rasa keibuan, mungkin juga kau jengah dengan kata cinta serta luka yang satu paket komplit dalam kehidupan, mungkin juga kau masih asyik dengan ilmu yang jauh jauh dari hangatnya rumah ingin kau kuasai, mungkin kamu tak tertarik dengan aku yang koleris semi melankolis sok misterius ini, atau justru kau pun penasaran dengan aku yang tidak mainstream ini. Hahaha kemungkinan itu ketidakpastian yang menyenangkan,teman. Yakinlah aku tak apa dengan realitas yang fana ini. Berandai dan bermimpi itu gratis dan sungguh sangaaaaat menyenangkan.
 
Jangan tertawakan aku, bang. Aku bukan pelawak professional tuk menghiburmu. Cukup tersenyum geli saat membaca surat ini,bang. aku ingin seperti angin lalu yang segarkan harimu. Membuatmu sedikit gelisah penasaran. Ataupun cuek tak peduli. Yakinlah kawan aku hanyalah gadis yang bahagia menjadi tak biasa. Hidup terlalu menarik untuk dihabiskan jadi orang biasa. Masa bodohlah dengan orang lain. Toh ini hidup kita. Iya kan? Iya sajalah ya bang biar aku senang hahahaha.

Apa ya jadinya kalau surat ini sampai di pangkuan abang? Kalau sampai surat ini abang baca, berarti kenekatan saya sedang asyik mengusili logikaku bang. Hahaha 

Benarkah dataran Sumatra itu sangat luas bang? Ku dengar pantainya cantik jelita dan unik, serta liku jalan terjalnya yang memacu adrenalin, betulkah demikian bang? aku ingin bisa mengunjungi medan bang. Bukan semata – mata karenamu tapi karena memang cita - citaku ingin sekali mengelilingi Indonesia ku yang tercinta ini bang. Keren bukan. :P

selamat malam abang, di manapun kamu berada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar