Minggu, 22 Maret 2015

15th March 2015


Hari ini ulang tahunmu,paa. Jika saja kau masih disini kita akan melalui hari minggu ini dengan ceria. Mungkin tanpa kue yang kau tak begitu suka namun dengan segunung tawa membahana. Ya, hari ini genap 49 tahun usia paa. Andai saja tuhan tidak cepat – cepat memanggilmu pulang, mungkin hari ini kita akan bersuka ria, dengan mama yang tak berhenti memasak dibantu oleh dhek fifi yang juga sibuk menyiapkan ini dan itu, dengan kakak yang asyik menggoda dhek gio, cucumu yang ganteng, papa tentu akan asyik menyiapkan arang dan bara api untuk membakar bebek kesukaanmu dibantu dengan mas dicky, dan aku akan tergelak dengan pipi tercoret jelaga, mondar – mandir membawa ini itu untuk mempersiapkan acara bakar – bakar sekeluarga. 

Namun sayangnya itu semua hanya rajutan imajinasiku belaka. Hari ini berjalan begitu sepi. Mama yang letih sepulang dari menenggok dhek krishna di pondok. Kakak yang asyik dengan keluarga mungilnya sibuk mendatangi acara resepsi pernikahan kawannya, dhek kupik asyik dengan laptop dan tumpukan serial koreanya dan aku terdampar disini, berusaha membersihkan semuanya, membuat sibuk raga yang dalam hati ingin menangis kencang. Menyibukan diri dengan bersih – bersih adalah kegemaraanku saat ini paa kala hati tak mampu lagi bersuara dan hanya tangan bergerak sibuk mecoba melupakan semuanya.

Bahkan bunga 7 rupa itu hanya tergolek lemah didalam kulkas, sore ini hujan mengguyur dan untuk menyapamu dimakam saja kita tak mampu paa. Seakan – akan awan ikut menangis kala air mataku tak jua mau menitik dan hatiku berdusta tak mau berkata.

Kesedihan ini mungkin akan cepat berlalu, tapi tahukah kau paa ini akan selamanya membekas disini, didalamhati, dan takkan terganti.

Aku masih saja menunggu lelaki yang bersedia menjagaku seperti saat dulu papa menjagaku. Dalam diam, kau rayu diriku yang mogok minum obat kala tarikan nafas jadi begitu menghimpit. Dengan sabar kau coba hibur diriku dengan menanyakan hariku dalam kondisimu yang semakin melemah namun tak membuatmu lupa untuk sekedar berbagi denganku. Dilain waktu kau petik gitarmu menyanyikan lagu dengan gitar tua kesayanganmu, menerbitkan senyum simpul. Tak lupa kau awali hari dengan ceria dengan lantunan lagu terputar kencang didalam rumah, mencoba membangkitkan semangat dalam rutinitas yang stagnan. Kamu yang selalu memperhatikan hal kecil bahkan memuji karya sederhana buatanku sendiri. Kamu yang selalu ada untukku, saat ini belum ada yang bersedia mengantikan tugasmu paa. Ya, aku masih berjuang sendiri menghadapi dunia yang tak secerah dulu saat kau masih menjaga langkah dikejauhan.

Semoga papa baik – baik saja disana dan sabar menungguku pulang. Miss you paa~

Sabtu, 07 Maret 2015

Kangen Kamu Ga Pernah Sekampret Ini!



Sudah beberapa minggu ini kita tak bersua. Aku masih sebal denganmu. Betapa tidak chatku yang bertumpuk bak gunung semeru itu tidak ada satu pun yang kamu balas, meninggalkan seonggok “R” yang menghina, dibaca namun tak berbalas.

Tak lama kemudian kamu mengomentari dua status di jejaring sosial seperti tak terjadi apa – apa. Dengan sengaja aku tak menggubrisnya dan memilih berkoar sesukaku dan tetap tidak mengindahkanmu. Sengaja dicuekin rasanya tidak enak bukan? Sesekali kamu perlu merasakan ga enaknya jadi aku. Aku yang selalu ada untukmu.

Kita berkawan sekian lama dan aku masih jua tak memahamimu. Entah aku yang terlalu tolol atau memang kamu tak pernah menunjukan jati dirimu yang sebenarnya ku tak tahu. Kamu masih saja semenyebalkan seperti biasanya, dan aku masih saja dengan bodohnya rindu debat kusirmu yang tak berujung itu.

Dulu aku memang mencampur adukkan kedekatan ini dengan kata cinta. Setelah mengenalmu aku semakin tersesat hilang arah. Buatku cinta sekarang hanyalah kejadian langka dan presentase harapan hidupnya cuma sekian persen. Entahlah. Aku tak lagi menaruh harap lagi padanya. Biarkan saja ia bekerja dengan jalan anehnya.

Kamu sudah layaknya sahabat penaku. Padamulah ku curahkan semua yang tidak bisa aku ucapkan dengan gamblang pada kawan sebayaku. Kamu pendengar setia yang juga selalu ku nantikan kelanjutan ceritanya. Hanya saja kamu terlalu gengsi dan ingin menyimpannya sendiri. Lantas sebenarnya aku ini apa dihidupmu? Sekedar penampakan yang mampir lewat sekelibat atau hanya halte mangkrak yang tidak menarik dan cukup ada begitu saja? Kamu dan sejuta teka teki sesatmu.
Mengharapkan cintamu itu seperti menanti kucing kayang ditengah pasar, mustahil. Sudah sejak lama kusadari itu, aku takkan pernah sanggup memenuhi ekspektasi ganjilmu dan semua harap palsu kesempurnaan yang kamu mau pada wanitamu. 

Seandainya saja kau sadari ketika kamu tengah sibuk mencari sesorang yang sempurna kamu akan melewatkan seseorang yang tidak sempurna namun membuat kebahagianmu lengkap dan sempurna, kawan. Dan tentu saja itu bukan aku. Aku sudah tahu.

Maafkan aku yang sudah membuat semuanya runyam seperti ini. kau tentu sudah tau aku memang seruwet ini.

Sesebal apapun diriku, aku akan selalu disini, menjadi telinga saat kau butuh didengar, menjadi kaki dan tangan saat kau butuh teman dan menjadi mata yang selalu ada saat kau ingin diawasi. Dimanapun kamu berada, kuharap kau selalu baik – baik saja!
Ya, kangen kamu gak pernah sekampret ini.


(sayup - sayup alunan anyer 10 maret, senja dalam doa)

Minggu, 01 Maret 2015

Saya Kamtis, Kamtis Kemendung!



Namaku cynthia, tapi orang – orang biasanya memanggilku dengan sebutan “cen”. Mungkin nama asliku terlalu unyu untuk gadis begidasan asli sidoarjo mlipir ini hehehe. Temen – temen banyak yang mlesetin nama tenarku ini jadi macem – macem : mulai dari centong, centelan sampe cendol tak aminin semua sama senyam – senyum. Wes rapopo rek! pokoknya koncoku hepi aku tak melu selpi #eh
 
Perkenalan kali pertama sama band suangar ini aslinya gak sengaja, Papa yang memang dulunya seniman (Papa dulu vokalis band ngetop di kampusnya) akan selalu mengabulkan permintaan anak - anaknya kalau seputar dunia musik mulai dari rutin membelikan kami kaset band favorit masing – masing sampai semua pernak - perniknya. Jaman masih SD dulu aku ngfans mas – mas Sheila On 7 dan papa bela – belain kirimin kado ulang tahun untukku album pertamanya Sheila on 7 dari Malaysia hlo! Papa memang paling segitunya kalo buat anak gadisnya yang lagi pencarian jati diri dan berhubungan langsung dengan dunia favoritnya : Musik. Rasanya sueneng banget kalau tiap weekend diajak jalan – jalan ke TP, tujuan pertama kami jelas dan pasti, Disctara! Entah berapa banyak kaset yang papa belikan untukku, dan rata – rata semua artis dalam negeri. Papa mengajarkan kami untuk selalu menghargai karya anak bangsa dengan cara yang paling simple : beli kaset originalnya dan nikmati karya dengan bahagia!

Berkat tangan dingin beliau aku tumbuh menjadi gadis dengan pribadi yang tidak biasa terutama selera musik favorit kami. Masih terpatri jelas dibenakku, saat itu aku tengah duduk di bangku sekolah menengah pertama kelas dua, kawan – kawan karibku saat itu tengah menggandrungi musik hip – hop mulai dari single “bunga” milik fade to black sampai soundtracknya fast and furious namun aku tetap tidak bergeming pada kecintaanku akan musik rock. Ledekan dan guyonan yang menyindirku pun tak aku gubris, dalam hati aku berujar “ buat apa ngikutin yang lagi trend kalo nantinya bakal keseret kesana – kemari tanpa ngerti substansinya? ” namanya juga masa muda, saat itu aku sedang bersemangat – semangatnya kenalan dengan banyak genre dan banyak band keren. Mulai dari Superman Is Dead sampai band indie asli suroboyo sekelas devadata dan blingsatan pun seringkali menghampiri telingaku. Tak jarang kawan – kawan cuma bisa geleng – geleng  dan sudah hapal ga bakalan bisa tukeran lagu teranyar yang lagi hits, maklum jalan kami memang sudah berbeda.

Siang itu cukup terik, kami pulang sekolah lebih cepat dari biasanya dan ternyata kakak perempuanku juga mengalami hal yang sama, saat sesampainya dirumah mendadak papa ngajak jalan – jalan, mumpung pada pulang pagi ujar papa saat itu. Bergegaslah kami menuju delta plasa untuk sekedar window shopping bersama – sama. Saat kami menyatroni disctara, saat itu kakak sedang mencari album kedua Superman is Dead yang berjudul The Hangover Decade untuk melengkapi koleksi kami akhirnya manyun karena stok saat itu sedang kosong, saat papa menawarkan kami untuk membelikan kaset kakak akhirnya mengambil album itu begitu saja.

Saat pertama kali aku membaca nama band yang tercetak dalam font unyu bertuliskan “ Endank Soekamti “ dan gambar kartun personilnya yang ganteng – ganteng tapi bikin perasaan jadi geli, ini band kok ndangdut abis gini namanya, tapi keren juga yah! Ga pasaran! Uwedan tenan! Bisikku dalem hati.


“sssstttttt! Inihlo wujud kasetnya. Iya iya gue tua. hahaha”

Saat membolak balik kaset berbackground warna kuning tersebut dan membaca sekilas tracklistnya akhirnya aku nodong penjelasan kakak.

“kak, ini band opo tho? Kok lucu gini namanya? Keren tapi E~ “

“jare temenku apik dhek, lagune lucu – lucu, aku yo penasaran dhek, makan e tak beli mumpung papa yang mbayari hehehehe” tukas kakak sembari senyam – senyum anak kuda

Sesampainya dirumah kami pun segera membuka segel dan “menelanjangi” kaset tersebut. Jaman dulu belum ngtrend CD ataupun download via iTunes, kami hanya berbekal radio tape masing – masing dan kebetulan radio tape milikku lah yang paling yahud suaranya kala itu, segera saja kami letakkan dalam tempat pemutarnya dan lalu menekan tombol play sembari memelototi lirik lagu yang tercantum bak pembacaan pancasila waktu upacara : dijeber dan diangkat lalu dibaca bareng – bareng sambil ngikutin nada lagunya.

“ font liriknya berasa kaya baca krepekan, lucu!”

Setelah hepi membolak balik dan ngplay kasetnya ping bolak balik akhirnya aku dan kak tere berdiskusi seru, favorit kak tere yang asu tenanan sedangkan favoritku lagu kura – kura namun kita sepakat lagu manis paling puitis yang bikin kita mimbik mimbik nangis ada di track uuuuuu.

Rasanya kenyang banget abis ndengerin kasetnya endsoe sesorean itu, bukan karen mas eriks pokalisnya yang tambun minta dicubit itu pipinya mirip bakpau, bukan. Cuma rasanya baru kali ini nemu band yang sepaket komplit dari lagu – lagu cinta ala kadarnya dan “real” banget liriknya, pas ga muluk – muluk tapi juga ga melulu membahasa isu cinta – cintaan melulu dan selalu menyelipkan satu lagu berbahasa jawa dengan lirik yang super kocak. Sukaaaaa banget! 

Beranjak gede, aku mulai kenalan dengan band – band dari luar negeri, saking mabuknya sama band bule itu aku mulai mlipir dari tracklist musik indonesia yang saat itu lagi heboh – hebohnya musik melayu. Sumpah aku muak sama acara keplok – keplok hore yang nampilin band - band anyaran tapi malah pada asyik lipsync-an. MALU – MALUIN! Waktu SMA aku vakum dari berita terbaru artis dalem negri, entah karena malas atau ogah – ogahan aku cuma ngikutin perkembangan terkininya superman is dead, aku mulai lupa sama band keren ini. maap mas erik, mas dory, mas ari saya khilaf~ *nangis dipojokan*

Tambah tua makin bosen sama lagu – lagu bule yang liriknya isinya ngenes melulu. Wayahe muvon dari emo – emoan sepertinya. Di tengah kejenuhan itulah aku kenalan kalih duo kamtis unyu jaya, sebut saja namanya mas kembar. Dua ekor bocah kakak kelas jaman SMP sohibnya mantan ini mendadak terdampar dikehidupanku dan mengenalkan endsoe versi yang paling anyar. Wah mendadak jiwa kamtis yang dulu pernah terkubur membuncah lagi dengan semangat! Tak jarang kami karaokean via telpon nyanyi berjama’ah jejeran lagu – lagunya di albumnya angka 8 dengan gembira.

Berkat mas kembar juga lah akhirnya aku kenal sama mas mbah, sohib kecilnya yang juga kamtis family. Berkat informasi dari mas mbah juga aku tau kalo mas endank bakalan ngegigs di surabaya tepatnya di acaranya soundrenaline. Saat itu aku beruntung, karena kakak dan mas ipar dapat tiket gratisan dari kawannya. Kami pun berangkat bertiga walaupun saat itu kakakku tenggah hamil muda. Namun sayangnya sesampainya di lokasi, terdengar dikejauhan lagu – lagu endank soekamti tengah berkumandang dan aku masih terdampar di parkiran, ingin rasanya segera lari dan nonton mas endank “Live Concert” dari dekat tapi apa ada aku ga tega ninggalin kakak sendirian sedangkan suaminya belum ketemu. Nyesel rasanya kenapa band dengan lini masa lumayan mbludak sekelas endank soekamti justru di taruh di jadwal sore yang notabene pengunjungnya masih sepi, gemes sumpah! Hhhhhhhhh~ dan aku cuma bisa gigit jari pas dikasih pamer foto – foto jepretan jarak dekatnya mas aga kala meliput aksi endank soekamti sore itu


“ aku ravovo,mas. Tenane ravovo *HIKS* ”

Harapan ngamtisku belum juga surut, dan Allhamdulillah beberapa bulan kemudian ada adek – adek SMA di Malang, kota perantauan dimana aku tengah berkuliah, yang nyelenggarain pensi dengan gueststar dan tak lain dan tak bukan jreng!jreng!jreng! ENDANK SOEKAMTI! HOREEEEEEEE~ karena saat itu mas kembar tengah bekerja di tanggerang dan tak dapat menemaniku nonton mas endank yang tengah ngonser, jadilah aku ngajak mas mbah dan dia menyanggupinya!


“ Aaaaaaaak~ akhirnya aku ga kamtis cupu lagi! ” 

Sore itu, dia datang menjemputku dikosan dan langsung melaju ke Dome UMM dimana pensi diadakan, jujur aja aku ngerasa “aneh”, mahasiswa semester tua kok ya mau – maunya nonton pensinya anak ABG, tapi dalem hati aku teriak, “BODO AMAT, yang penting NGAMTIS dulu coy!!!” setelah puas teriak – teriak jejingkrakan dan ikutan sing along dibeberapa lagu yang aku hapal (tapi kebanyakan yang hapal diluar kepala lagu – lagu di album angka 8, maklum memorinya karatan uda pada lupa liriknya mana ga belajar dulu sebelum nonton hehehehe) 


“makasi  eaaaa qaqaaaaaa”

Setelah akhirnya dipertemukan idola di atas panggung untuk pertama kalinya, akhirnya saya ketagihan. Tak lama berselang sebuah fakultas di UM mengadakan acara ulang tahun fakultasnya yang dibintangi lagi – lagi sama mas endank. Setelah bernegosiasi dengan mas mbah, yang lagi – lagi jadi partner ngonser, berangkatlah kami malam minggu itu ke samantha krida. Kali ini persiapanku lebih matang, aku sudah hapal lirik – lirik lagu andalan dan stamina buat moshing moshing unyu malam itu. Menyanggupi tantangan mas aga di waktu lalu, kali ini aku merapat dengan menggunakan “si item” wedges 10cm kesayanganku, sapa bilang pake hak tinggi ga bisa joget? Hahahaha


"sudah mesra blom? #tsaaaah~" 
Suasana kali itu lebih ramai dari pensi sebelumnya. Ku lihat banyak spanduk terpasang di sisi stadion, kamtis dari berbagai penjuru berdatangan hanya untuk menyanyikan lagu “ long live my family” sungguh aku terharu, kami tak begitu mengenal satu sama lain namun mendadak jadi satu kesatuan kompak yang saling menyayangi dan digawangi idola kami yang tak hanya mampu bermusik kreatif namun juga menularkan semangat dan inspirasi kepada kami semua. Tak ada batasan, mendadak kami melebur menjadi satu kesatuan dan merayakan semangat kebersamaan. Saat itulah aku menasbihkan diriku dengan bangga menjadi kamtis. Bangga rasanya menjadi satu dari sebagian kecil lini masa yang saling menginspirasi satu sama lain.

Idola kami hanyalah manusia biasa, manusia biasa yang juga doyan makan krupuk, manusia biasa yang juga bisa kangen sama anak istrinya dirumah, tapi yang tak biasa itu semangatnya! Saling percaya dengan potensi yang mereka miliki dan merubahnya menjadi karya yang mumpuni, mereka bekerja sama dan kini dengan bangga mampu berdikari dibawah label musik milik mereka, ya, MILIK MEREKA SENDIRI. Ketika band lain sedang sibuk mengikuti pasar dan menuruti permintaan label, mereka mendobrak kebiasaan dan sukses memetakan cita – cita mereka sendiri!!! 

Saya kamtis dan saya bangga mencintai karya anak bangsa!!!

 LONG LIVE MY FAMILY
“ Apa kabar mu Teman-temanku

Ku tahu kamu setia menunggu

Walaupun aku selalu sangsimu
 Kini ku datang hanyalah untukmu
Aku ada di sini menghiburmu
Sekali lagi seperti dulu
 Senang ataupun susah
Selalu ceria
 Long Live My Family
Ku ingat semua tingkah gilamu
Ku ingat juga wajahmu yang lucu
Kita semua seperti saudara
Tumbuh bersama sampai kita tua
Apa kabarmu teman-temanku
Lama tersa tidak bertemu
Mungkin dirimu telah banyak berubah
Jadi apapun tidak masalah “

Sabtu, 28 Februari 2015

Bertepuk Tangan Sebelahan

Entah kenapa tiap kali saya serius dan ngebet banget naksir seseorang selalu berujung tidak jelas atau lebih tepatnya “ngenes”. Mungkin benar kata teman saya bahwa saya tidak mujur dalam perihal pilih memilih cinta. Dia pernah bersabda “Cinta itu dipilih, cynthia. Bukan memilih. Kalau memilih itu namanya bukan cinta, tapi calon DPR, ayo dipilih dipilih~” dan saya pun dengan girangnya memberi aplaus untuk kejeniusan kalimatnya tersebut dan macak anak sd dikasih susu milo gratis. Hebring.
 
Cinta bertepuk sebelah tangan sudah menjadi makanan saya sehari hari. Udah biasa banget rasanya kalau harapan mumbul tinggi, tiba tiba besok si harapannya mendadak ndlosor ngesor aja ditanah. Biasa banget. Iya. Meweknya juga jadi kebiasaan banget. (halah)

Mungkin mereka terlalu buta melihat pesona saya yang terpendam ini. Secara terpendamnya jarak 5 KM di bawah tanah. Sangar banget gak tuh? Yaiyalah mereka gak nyadar. Wong saya juga ga tahu kok pesona flora dan fauna saya ini dimananya. nyahahaha~

Singkat kata saya menyadari ketidakberuntungan ini bermula saat duduk di kelas satu SMA. Kata papa masa SMA itu masa masa paling indah. Tapi buat saya entah kenapa bukan yang paling indah di hidup saya, kebanyakan ngenesnya sih sampai mabok! Mungkin di jaman saya kata “paling”-nya lagi mudik, mungkin. 

Sebut saja namanya kriwul, dialah tersangka dimana keapesan ini bermula. Dia berkulit hitam legam, beneran kriwul dan merupakan mahluk absurd paling nyebelin kalau lagi duduk manis dikelas. Gimana ga sebel kalau dia duduk di bangku tepat dibelakang saya dan hobinya main-jambak-tarik-tusuk-cepol rambut saya. TIAP HARI! Rasanya pengen cakar cakar harimau aja bawaannya kalau lagi di bully sama dia tapi mendadak ga jadi marah karena dia mendadak senyum manis kedip menghiba kalau saya mau marah marah ataupun mau ngdemo dia minta turunin harga bakso dikantin.
Jangan bayangin sosok dia ganteng bin aduhai. Jangan! Karena aslinya dia sama sekali nggak ganteng tapi cukup manis lah buat dijadiin alternatif pengganti es tebu di depan sekolah. Dia anggota klub basket kenamaan sekolah kami dan entah siapa yang memberikan mandat atau mungkin pas nunjuk sambil ngupil asyik dan asal comot, dia terpilih menjadi kapten tim basket andalan sekolah! Piye ga kesemsem coba? Maklum saya pada era itu semacam terhipnotis film indonesia yang sedang booming kala itu yang menasbihkan bahwa anak basket, apapun rupanya, pasti keren! (tipikal anak alay sekali coy! Maklumin yak~)

Kejadian yang bikin saya total klepek klepek masih juga membekas diingatan sob, waktu itu kelas kami sedang pelajaran agama. Ibu guru kami sudah sangat sepuh sehingga tidak kuat berteriak memarahi tingkah kami yang ababil bin kanak kanak. Ada yang lari kejar kejaran didalem kelas, ada juga sekelompok cewek yang malah asyik main salon salonan sambil potong poni beneran disudut kelas yang lainnya. Kelas kami saat itu benar benar kacau balau dan beliau cuma sanggup geleng - geleng istigfar sembari mengelus papan tulis dan tetap mengajar seglintir murid yang duduk dibaris depan, ya sebagian dari kami yang kekeuh di jalan yang benar. Kala itu saya dilanda bosan berkepanjangan. Sambil kedip kedip mengamati kekacauan teman teman saya yang lebih pantas disebut arena badak lepas minta kawin, tiba - tiba mata saya tertuju pada sosok kriwul yang duduk manis di bawah meja. Penasaran, saya pun menghampirinya bak miss universe menyapa supir angkot yang lagi asyik ngisi TTS.

“wul, kamu ngapain kok ngesor disitu? Mau pedekate sama suster ngesor ya? Ciyeeeeee” sembari towel towel bahunya genit, lalu ikut duduk disebelahnya.

“inilho, aku lagi nyobain fitur baru dihapeku. Aku baru tau pas iseng ngutak atik menu dihapeku barusan. Eh hapeku uda 3G hlo~ ada kamera depannya lagi. Tuh liat masih mulus kan casingnya. Westalah apik tenan!” kriwul pun menceramahiku bak sales bintang lima

“emang fitur baru apa sih wul? Kok kayaknya seru banget?” mataku berkilat bundar pertanda penasaran minta dijodohin eh dijelasin maksudnya.

“fitur radio, ituloh buat dengerin lagu lagu. Hapeku canggih kan?”

“. . . “ 
 
Tanpa tendeng aling aling si kriwul pun masangin headsetnya yang sebelah ketelinggaku yang nganggur. Jantungku pun lompat tali jedag jedug dibuatnya. Sekilas ku lirik rambutnya yang menjuntai kriwil teriak teriak minta di rebonding, lalu seperkian detik mata kami pun beradu jotos eh bukan bukan maksudnya beradu pandang. Hatiku mendadak kaya es krim kepanasan, meleleh luber tak karuan. Masih ku ingat dengan jelas lagu yang berkumandang ditelinga kami saat itu lagu dari tante rheza arthamevia yang sepenggal liriknya berbunyi “ cintai diriku seperti aku mencintaimuuuuuu~” 

Sontak, kami pun lirik lirikan menyerupai adegan percontekaan saat ulangan harian. Aku lirik dia, dia pun melirikku, aku lalu melirik dia lagi, lalu guru kami pun ikut melirik pada kami berdua seakan minta diajak ikutan adu lirik. Pada menit tak terlupakan itu kami terdiam, maklum kami saat itu masih bocah, kami pun bingung hendak mengutarakan apa, lalu diam malu - malu anak gajah.
 
Sejak saat itu saya menaruh perasaan padanya, namun kadang tiba – tiba menguap sebal begitu saja saat ia menarik jilbabku dengan sengaja hingga tak keruan bentuknya (maklum saat itu saya jilbabers anyaran dan paling sedih kalo kudu mbetulin lagi karena belom jago) atau main sodok – pake – pencil – cemong semua di punggungku dari belakang. Ugh, gemas rasanya sampai kepengen ngrebonding rambut kriwulnya itu demi membalaskan dendam nyi blorong #Eh.

Namun perlakuan menyebalkannya itu mendadak menguap tatkala ia berjalan disamping mejaku dan menyempatkan menguyel – uyel kepalaku mesra atau hanya sekedar merampas binderku lalu mencorat – coret sengaja dengan gravity buatannya dan tak lupa mencela gravity buatanku sendiri.

Tingkahnya yang tak tentu itu jelas saja membuatku risau. Kalau istilah jaman sekarang sih saya dulu itu “digantungin”atau lebih parahnya lagi kena zona “friendzone”. Karena saya dulu adalah pribadi yang gak sabaran apalagi disuruh menunggu tanpa kepastian, akhirnya saya menerima pinangan dari kakak kelas untuk jadi pacarnya dan mencoba melupakan si kriwul ini.

Reaksinya pertama kali saat mengetahui saya sudah ada yang punya, dia ngambek dan menolak berbicara denganku selama seminggu. Aku yang kebinggungan akhirnya memilih tidak mengambil pusing kejadian itu dan menganggapnya “oh, mungkin si kriwul lagi dapet jadi lagi ga mau dibully”. Perang dingin itu berlangsung cukup lama dan puncaknya saat dia menulis puisi di sehelai kertas robekan milik pak rete, kawan sebangkunya dan menempelkannya di dinding tepat di belakangnya.

Aku yang penasaran, saat itu iseng membacanya saat ia pergi kekantin dan tengah mencoba memalak anak kelas lain seperti biasanya, saat pertama kali membacanya aku beneran ga paham apa maksudnya, maklum tulisan si kriwul ini sedahsyat rambutnya, alias total berantakan, dan saat saya meminta tolong titin (kawan karib sebangku-ku) untuk menerjemahkan tulisan alien itu sontak hatiku bak di iris – iris lalu di tongseng, nyesss sakit nujeb nujeb.

Aku seketika duduk bengong dikursinya yang kosong sembari titin heboh menepuk punggungku keras – keras (mungkin dia menyangka kalau punggungku ini layaknya kasur springbed minta digebuk, alamak! tangan kecilnya sukses membuat sekngkring – sengkring punggungku ini) ya, puisinya berisi tentang kekecewaannya dan intinya kalau dia sebenarnya menaruh hatiku padaku. Buyar sudah pertahananku, ingin rasanya jomblo mendadak dan membuatnya tersenyum girang namun jahil seperti biasanya lagi.

Apalah daya oatmeal sudah menjadi bubur, tak lama berselang, dia (si kriwul) ini jadian dengan teman sekelasku (sebut saja namanya bunga, nama lengkapnya bunga – bunga ditaman alangkah indahnya syalalalala~ #ehmalahdangdutan) dan setiap hari pas jam istirahat mereka asyik berdua – duan didepan mataku, kadang karma itu bekerja dengan cara yang lucu ya! *lalu nangis bombay*

Selepas derita si kriwil ini, kami pun berpisah, dia masuk kelas IPS dan aku terdampar hilang arah ke kelas IPA. Karena saya bukan bocah yang gemar hitung- hitungan akhirnya saya selalu berakhir dengan berangkat pagi – pagi dan asyik menjiplak jawaban temen kalo ada peer. Disitulah saya bertemu dengan sebut saja namanya mas gembul. Ia sesosok pria chubby partner bagi – bagi jawaban contekan dikala peer menumpuk minta disayang. 

Berkat ritual contek – mencontek itulah kami jadi dekat. Dia sesosok pria gaul yang hobi menggambar, tak ayal aku selalu meminta bantuannya dikala tugas kesenian mulai berulah. Mas gembul kala itu juga menyukai lagu metal seperti ku dan lagi gara – gara musik kami pun jadi dekat minta diembat #tsah
 
Saat itu pelajaran fisika, bapak gurunya tidak bisa hadir karena ada rapat dengan kepala sekolah dan membiarkan kami dlosoran di lantai di ruang aula (karena kelas kami seharusnya mempresentasikan materi siang itu) kulihat ada sebagian kawanku asyik mengerjakan LKS berjama’ah, ada pula yang asyik menggerombol asyik berdiskusi (atau lebih tepatnya nggosip terarah sesuai kurikulum kbk) dan ada juga yang hanya tidur bergeletakan begitu saja menikmati semburan AC bak pindang berjejer di pasar. Kala itu kulihat mas gembul asyik headsetan di pojokan. Aku yang saat itu tengah tergeletak bosan itu ahirnya memutuskan berglinding ke arahnya.

Saat melihat aksiku dia hanya tersenyum simpul, aku yang dalam posisi tengkurep lalu ndanggak menatapnya dan mulai berulah :

“mas gembul, mas gembul, lagi dengerin apa? Kepo nih” sembari memasang tampang anak kucing melas lengkap dengan mata menghibanya

“lagi dengerin musik”

“. . .”

(5 menit kemudian)

“mas gembul, mas gembul”

“dalem”

“katanya aku dikirimin lagunya bullet for my valentine, mana ih ga dikirim - kirim?
Lalu mendadak ia ikutan ngesor disebelahku dan tak lupa membagi headsetnya untukku seorang

“nih, ndengerin dewe. Ga boleh rewel” lalu seperti biasa ia menguyel – uyel kepalaku lalu memejamkan matanya dan berbaring diam dan momen ngesor – ngesor berdua itu membuatku jatuh ke perangkap pukat harimau, maklum kelemahan saya memang kalo diuyel – uyel kepalanya kayak anak kucing, bawaanya ngalem minta dipiara aja! Semenjak saat itu akhirnya aku menetapkan kalo naksir mas gembul beneran. Sepenuh jiwa dan raga, kalo perlu sama kentut - kentutnya juga!

Malang tak dapat diraih, eh maunya untung malah buntung. Setelah sekian lama berjibaku mendekati dirinya yang not responding tapi malah bikin tambah greget penasaran itu, akhirnya aku memberanikan diri nanya ke teman dekatnya. Jawabannya? Sungguh meremukan jantungku! Ternyata oh ternyata~ doi memendam rasa ke teman sekelas kami sebut saja namanya mbag yuyu. Kata temanku yang berperan sebagai informan ini, mas gembul sudah berusaha bertahun – tahun demi mendekati mbag yuyu namun selalu saja terjebak di zona “teman tapi mesra” alias kena jebakan betmen siapalagi kalo bukan pemeran utama kita yaitu : “friendzone” (jreng~jreng~jreng~) Pupus sudah harapanku. Semenjak informasi itu aku jadi tidak terlalu antusias jika naksir seseorang karena hasilnya selalu saja berakhir minta remidi. Ngenes coy!
 "Iyaaaa~"

Ini baru secuplik dari tumpukan kisah nyata tentang harapan yang melambung tinggi lalu akhirnya, nyungsep juga. Namanya juga hidup sob, kadang sesuai rencana, kadang di luar ekspektasi atau malah gagal total sama sekali. Yak inilah proses, tanpa mereka semua aku takkan bernyali dan menjadi seberani apa adanya diriku saat ini. terimakasih kalian! barisan mantan gebetan! Hahahaha Tunggu episode selanjutnya yak! Ciaooooo~