Jumat, 31 Oktober 2014

Es

Kadang aku masih suka berandai - andai. Andai saja sekarang aku merajuk meminta semangkuk es padamu, pasti langsung kau turuti walaupun kutahu kita sama sama tak punya uang lebih yang tersisa didalam dompet. Andai saja kuceritakan semua penat yang meruntuki di kepalaku ini, kamu pasti dengan konsentrasi penuh mendengarnya tanpa kupaksa. Seakan semua bualanku ini akan keluar disoal ujian esok hari. Kamu dengan wajah sayu tapi pemerhati kelas kakap dan aku dengan pipi bulat dan sejuta onggok kebodohan tentang andai. Tentang kita.

Ingatanku melompat pada waktu itu. Kala itu rintik hujan membuatmu geram. Ya, kau tak suka hujan dan justru aku mencintai rintiknya dengan sangat. Kau berhentikan motor matic kesayanganmu di warung lesehan favorit kita berdua dimana tak jarang ibu pemiliknya menggoda kita untuk segera mencetak undangan. Hari itu aku sedang kelaparan dan kamu sedang malas makan. Aku yang tukang merengek memaksamu untuk tetap makan lalu kau ajukan syarat; kita habiskan sepiring berdua. Aku yang selalu menyukai tantangan akhirnya menyanggupinya tanpa basa – basi. Segera ku pesan nasi dengan lauk jamur tepung serta sambel terong kesukaanmu. Saat itu warung sedang sepi padahal biasanya tak jarang kita harus menunggu setengah jam hanya untuk mendapat tempat untuk duduk. Kau habiskan terong dengan lahap dan aku malah asyik meraih es batu dalam gelas es jeruk nipisku. Kaupun beralih memperhatikanku, lalu dengan sadis merebut es batu yang nangkring di sedotanku dengan tangan saat mulutku tanpa malu sudah mengap dengan indahnya hendak melahap dan mengunyah es batu itu dengan keras. Ya, aku suka menggilas es batu dengan gigiku. Tak jarang kau hanya diam dan mengerutkan wajah dengan ekspresi ngilu dan aku pun tertawa terbahak – bahak, menggolokmu.

Lalu memori itu melompat pesat pada hari yang berbeda. Siang itu aku sedang kesal. Kau telat menjemputku sesaat setelah kepulanganku dari perkemaahan. Aku yang bak orang dungu berdiri di tepi jalan dengan muka berdebu, semangat layu dan peralatan tidak masuk akal di punggungku. Kau yang melambatkan motormu menghampiriku nampak takut – takut saat membaca raut mukaku. Jelas aku kesal. Setelah dijemur panas – panasan hanya untuk mendengarkan mars himpunan yang bahkan panitianya saja tidak hapal tentang lagunya, tidak dapat mentolerir keterlambatan. Kamu dan sejuta alasanmu. Aku dengan egoku hanya diam bungkam lalu menaiki boncengan motormu dengan asal. Kamu yang sudah hapal dengan tabiatku lalu menggodaku dengan banyolan yang entah saat itu aku tak tahu dimana letak lucunya. Aku memelukmu dari belakang. Erat. Untuk memberitahumu aku sedang kesal stadium akhir. Tidak mau diganggu. Tapi bukan kamu namanya jika menyerah menghadapi rajukanku. Tahu – tahu kau berhentikan laju motormu di gerobak es doger yang pada saat itu dapat dibeli dengan 3ribu perak. Tanpa turun dari motor kau memesan 2 gelas pada abang penjaja es tersebut, aku, yang tanpa malu tetap memelukmu dari belakang membuat abang penjualnya paham mengapa kau tak turun dari motormu. Sore itu berlalu dengan manis. Semanis es doger gratis darimu.

Kita berdua memang penggemar kelas berat untuk masalah es. Semangkuk es paling berkesan untukku saat kita menikmatinya berdua di pinggir jalan, di kawasan masjid agung Al Akbar, saat kau bertandang kekotaku. Saat itu kau mengantarku pulang karena asmaku sedang kambuh dan kamu dengar rewelnya berkeras mengantarku pulang dengan motor matic kesayanganmu yang kau panggil mesra, miong. Aku yang tidak suka dianggap sedang sakit bersikeras mengajakmu jalan – jalan mengelilingi kota sebelum bertandang kerumahku. Akhirnya kita berakhir ditepian trotoar dengan dua mangkuk es dan sebongkah tawa. Aku yang tak peduli sedang sakit melahap semangkuk es oyen itu seperti pengamen jalanan diberi nasi bungkus gratisan. Kamu memandangiku dengan heran lalu tertawa dan akhirnya memilih bercakap – cakap dengan bapak penjualnya. Aku yang masih kalap karena kepanasan akhirnya memutuskan memesan semangkuk lagi diiringi dengan lirikan sebal darimu. Aku tak peduli, dan bapak pedagangnya tertawa memperhatikan tingkah kita berdua. Betapa terkejutnya saat kau membayar 3 mangkuk es tersebut dengan selembar uang 10ribuan namun masih mendapat uang kembalian. Kamu yang tipe orang tidak tegaan akhirnya memilih tak menerima uang kembalian tersebut, bapaknya tersenyum syukur, aku pun ikut tersenyum simpul.

Ingatanku mendadak melaju mundur jauh kebelakang. Saat itu semester 3. Kita berdua merayakan aniversary untuk yang kedua, dua bulan maksudnya. Entah mengapa kau selalu ingat tanggal jadian kita dan aku dengan slebornya selalu lupa. Aku tak terlalu suka merayakannya setiap bulan, karena menurutku cinta bukan tagihan bulanan, jadi tak perlu dihitung apalagi dirayakan. Namun kamu selalu sukses membuatku tersenyum lebar saat mengumumkan lewat pesan singkat mengingatkan aku kalau hari itu kita genap 60 hari bersama. Aku menggodamu dengan guyonan mengapa kita tidak menyelenggarakan pengajian saja nanti malam dan kamu manyun lalu tidak membalas pesanku. Selepas kuliah yang maha membosankan sore itu, kamu merajuk minta ditemani ke café ice cream yang aku tahu dengan uang saku satu minggu pun aku tidak sanggup membelinya. Kamu terus merajuk dan aku harap - harap cemas. Akhirnya aku mengiyakan dengan pasrah. Saat itu aku cemas akan dua hal ; uang didompetku tak akan cukup dan betapa memalukannya aku dandanan hari itu cenderung asal comot  alias biasa saja. Sedangkan kamu hari itu berdandan sangat necis, sepatu mahal yang tidak biasa kau gunakan sehari – hari serta kemeja bermerk kesayanganmu, kau pakai hari itu. Aku melangkah memasuki café itu dengan perasaan campur aduk seperti hewan kurban hendak memasuki rumah penjagalan. Kau genggam tanganku dengan santai lalu duduk dan memesan dua mangkuk es krim yang harga permangkuknya cukup untuk membeli satu kardus mi instan. Lalu sore itu berlalu dengan gemulai dengan kecupan ringan di pipiku dan rona merah di pipimu.

Ingatan adalah kotak berdebu yang menyimpan sejuta asa dan luka. Bahkan saat tubuhku sebagai pesawatnya telah karam, ingatanku bak kotak hitam yang masih berdenyut, pelan, terkubur didasar samudera. Hubungan kita telah berakhir entah untuk berapa tahun lamanya, aku tak peduli dan kita dipertemukan lagi di depan segelas iced coffee blend kesukaanku, semeja namun tak lagi sepaham. Malam itu kawan – kawan lama kita mengajak reunian untuk sekedar bertukar tawa lepas dan berbagi kabar. Hatiku terbelah, separuh hatiku menyerukan untuk tidak hadir dan berlalu dengan bebas, namun separuhnya lagi berteriak keras betapa aku rindu kawan – kawan lamaku, dan disinilah aku berakhir, kita duduk bersebrangan, tak saling berucap seakan kita orang asing, dan aku lagi – lagi bertingkah tak peduli dan memilih tertawa lepas sebagai tamengnya. Kunyalakan entah batang rokok keberapa saat itu sembari tertawa mendengar gurauan sahabat karibku, dan kamu masih saja duduk diam, tak terbaca. Tawaku boleh saja mengelabui mereka namun aku gentar juga melihat kebisuan darimu yang malam itu nampak vulgar dimataku. Hatiku membisu namun kepalaku tak dapat fokus pada permainan kartu saat itu dan dengan pasrahnya pipi gembulku ini dicoret cemong dengan lipstik sebagai hukumannya. Aku terduduk kaku namun asaku tak lagi ada disitu. Malam itu berlalu sedingin memori kita yang kini sudah keras membeku di ujung kutub utara, menunggu untuk entah jutaan tahun lamanya mencair karena global warming. Sungguh ku tak peduli lagi.

Jumat, 20 Juni 2014

Andai.



Selamat malam, paa~

Mungkin sudah terlalu larut untukku bercerita, tapi aku tak tahan untuk bungkam dan berdiam dalam sepinya malam ini, paa. Cyn tahu tak ingin mengugat keputusan tuhan. Ini hanya sepenggal mimpi tentang “andai” yang kadang menyelinap usil dibenakku begitu saja. Tapi tak apa, aku sudah berkawan dengan kata tersebut dan mencoba sedemikian rupa agar tetap menyetujui pada akhirnya apa yang tuhan putuskan adalah yang terbaik untukmu, paa.

Perlu papa tahu, kini cyn sudah beranjak dewasa. Cyn calon sarjana yang dengan susah payah menggapai gelar yang bahkan aku tahu papa pasti protes bila mengetahuinya. Cyn calon sarjana pertanian paa, bahkan cyn juga tidak tahu kenapa cyn bisa kuliah di fakultas ini. Ketika ada kesempatan dan sekiranya tidak membuat mama pusing dengan biaya per semesternya yang tak sampai satu juta rupiah, cyn sambar saja. Siapa tahu memang tuhan gariskan cyn jadi sarjana pertanian walaupun jauh dari minat yang cyn dambakan. Akhir akhir ini cyn juga bertanya tanya, kenapa menyelesaikan skripsi ini jadi begitu susah dan ga selesai selesai, padahal teman cyn bisa dengan mudahnya mengerjakannya tanpa kesusahan walaupun menelan biaya penelitian yang bikin geleng geleng kepala. Saat cyn tanyakan dengan penasaran ternyata jawabannya bikin cyn merana paa, mereka dapat support kebanyakan dari ayah mereka baik lewat pesan singkat maupun bercanda lewat telepon. Kini papa tau kan kenapa cyn malah asyik berandai – andai? Iya, cyn kangen papa.

Sekarang tahun 2014 paa, kakak sudah menikah tahun kemarin dibulan desember dan kini tengah mengandung cucu pertamanya papa, doakan persalinannya lancar dan cucunya papa gemas gemas unyu ya paa. Dhek fifi sedang asyik menikmati masa SMA-nya yang kadang cyn takutkan terlewatkan begitu saja tanpa kesan apa apa, dia memang polos paa, ga nakal sepertiku, tapi paling tidak dia punya sahabat yang baik padanya paa, tidak seperti cyn saat ini. Papa jangan kwatirkan dhek krishna, dia sekarang sedang berjuang di tahun pertamanya untuk jadi ustad lulusan gontor kebanggaan di keluarga kita, paa. Memang tidak mudah dan menguras tabungannya mama, tapi cyn rela uang sakunya pas pasan asal adek cisna tidak kekurangan di tengah medan perjuangannya paa. Tak terasa ini tahun ketujuh setelah kepergianmu paa. Asal papa baik baik saja disana dan senantiasa menunggu kami pulang, cyn akan mengusahakan yang terbaik untuk semua paa.

Cyn kadang bertanya – tanya, kira – kira jika papa masih disini, keluarga kita akan seperti apa. Mungkin kakak akan bekerja di luar jawa sepertimu, bahkan mungkin satu kota dengan perusahaan tempat papa bekerja dulu, sesuai minatnya dan sesuai gaji idaman yang berdigit dua dinilai awalnya. Mungkin dhek fifi akan bersekolah di SMA favorit di Surabaya dan memiliki semua gadget canggih yang ia idamkan serta dengan pedenya bergaya ala remaja jaman sekarang, dhek krishna tentu akan senang apabila papa menjengguknya di pondok setiap cuti 2 minggu dan memberi tahunya bahwa drum set serta perlengkapan band dan sepeda motor balapnya baik baik saja di rumah, karena ada papa yang selalu merawatnya, mama tentu tidak perlu pusing memikirkan biaya kami, asyik dengan bisnisnya yang mungkin kini berlevel diamond serta mendapat bonus berlibur keluar negri dengan papa  bulan depan dan akan tetap memasak semua makanan favoritmu, paa. Tapi tentu paragraf ini hanya impian cyn semata, paa. Tak mengapa asal papa tidak sedih melihat kami diatas sana. Ketahuilah, memang ini ujian untuk kami karena tuhan teramat sayang kepada kami, paa.

Kadang cyn membayangkan akan sangat senang sekali membaca mentionmu di twitter yang memarahiku agar rajin belajar dan tak lupa iming iming pergi liburan jika aku bisa menyelesaikan studiku dengan IPK yang berkilauan, atau sekedar membaca nasihatmu yang bijak sekaligus gaul (karena pake bahasa inggris dan logat gaul ala rapper amrik) di dinding facebookku. Kadang juga papa mengomentari postingan foto di instagramku yang isinya jajan dan kopi melulu dan saling review akun path masing – masing hanya untuk melepas rindu ataupun mengecek kegiatan sehari hariku, serta memuji dokumentasi dari karya seni buatanku yang ku unggah di akun tumblr-ku paa, seperti dulu saat papa memuji jadwal pelajaran hasil buatanku. Tentu dengan gadget canggihmu dari sebrang pulau, yang cyn tahu dengan baik bahkan dulu saat telpon genggam masih langka, papa sudah asyik mencari sinyal untuk sekedar browsing, mengirim email atau googling foto foto lucu. kalau boleh cyn menebak mungkin gadget papa saat ini buatan amerika dengan logo buah yang sudah digigit yang sedang “In” itu, dan mungkin milikku kini berlayar lebar dan buatan korea. Kita sama sama pecandu teknologi dan senang berbagi informasi tentangnya, seperti dulu kala paa. Cyn masi ingat betapa cyn risau tentang memori internal hape baru milikku yang merk dan modelnya sama persis denganmu sedangkan teman teman cyn masih asyik bermesra mesraan lewat wartel.  Saat itu cyn bangga punya papa yang “canggih” dan “melek teknologi” , bahkan papa sempat minta diajarin membuat akun di frienster kala itu. Tapi sayangnya adek fifi dan dhek krishna tidak kebagian rasanya berbagi denganmu paa. Sebaik mungkin cyn dengan setia memantau lalu lintas dunia maya mereka, paa. Sekedar berjaga – jaga agar mereka tidak kesepian sepertiku saat ini.

Papa tentu ingat betul tentang rekor jumlah mantan milikku. Bukan cyn dengan semena mena suka mempermainkan hati anak orang, paa. . bukan karena itu. Sesungguhnya tanpa cyn sadari, cyn selalu mencari kriteria lelaki idaman yang sepertimu, paa. Paling tidak ia jangkung, bisa main gitar, suka jalan – jalan dan berpetualang serta suka tertawa dan hangat sepertimu, tak lupa juga, ia takkan membiarkanku makan soto poya sendirian, sama sepertimu yang saat itu rela mokel demi menemaniku. Tapi laki – laki jaman sekarang aneh, paa. Mereka baik kalau ada maunya aja, tak jarang manis hanya saat tahap tahap pendekatan saja. Tentu aku ingin memiliki pendamping hidup dan calon imam yang sepertimu paa, yang selalu memuji mama tampak cantik dan memakan masakan buatan mama dengan lahap tanpa banyak cincong walaupun usia pernikahan kalian tak lagi dapat dihitung jari. Semoga cyn seberuntung mama bisa memiliki pendamping hidup sepertimu, paa. Semoga.

Genre musik cyn kini berubah paa. Kini cyn tak hanya mengidolakan boyband yang dulu saat SD papa belikan kaset terbarunya. Bukan juga fans garis keras yang mengidolakan band besutan anak negeri yang itu itu saja. Tentu saja papa tetap idola abadi di hati cyn yang dengan bangga akan bercerita kepada siapapun yang mau mendengarkanku bahwa bandnya papa dulu, Grassrock, juara 1 diajang bergengsi tingkat nasioanal sedangkan slank waktu itu cuma juara 3. Cyn berharap mewarisi kharisma papa di atas panggung, walaupun suara cyn cenderung biasa biasa saja, masa bodoh deh! Toh, cyn sudah punya idola tetap, dan tak  lekang dimakan waktu, PAPA tentunya! J
Papa mungkin sekarang akan bersedih hati bila tahu parpol kesayangannya kini carut marut karena anak buah pak esbeye yang tak tahan digoda harta hasil korupsi dan konspirasi.  Cyn tentu juga sedih karena seandainya tak carut marut mungkin sekarang calon presiden yang diusung parpol tersebut bakal mengurai runyamnya negeri ini. Untung papa tidak tahu, jadi sekarang cyn golput pun tak jadi masalah. Hehehe~

Terimakasih paa sudah sempat memberi warna warni dihidupku. Walau cyn tak banyak mengucapnya lewat lisan dan cenderung tertutup serta pendiam, perlu papa tahu bahwa dilubuk hati cyn yang terdalam, cyn takkan pernah mengeser kedudukan papa atau mengantikannya, karena papa satu satunya lelaki pertama yang mengisi cinta kasih dihatiku, paa. Oyasumi nasai, Papa! Love you so~

[Malang, 12 juni, menjelang tengah malam, duduk manis di kosan. ]

Minggu, 02 Maret 2014

Pathetic



The world no longer funny or am I too scepticaly pathetic right away? 

            Theres no sound in my room. I can feels the emptiness surround my head. Its feels so comfortable, so why them so afraid with that? Oh maybe im too blind to see what ordinary peoples seen. That’s fine. They never have the journey like I have. They never feels so scared like I did. They aren’t me, anyway.

            Its feels so alone and I enjoyed it. I can see others fake smiling everywhere. Pretending as best friend but stabbin each others behind their back as soon as possible. Human looks so awful, nowdays. Somehow I wish I can turn into a abadoned little kitten. I can run as much as I love. I can meow as much as I like. And lives getting so easier without any dramas like human always do. I just feels so tired with this suck dramas living things.

            No. im not giving up. Yeah, im looked so pathetic gloomy persons. Let it be. Cause out of there, I believe there is still someone who feels the way im so sick about. Even if I don’t know them, its okay. Sometimes pain are the sweetest way to make sure you still alive. Suicide its a stupid option who looser  make to excuse what lord give to us, a blessed breathtaking everyday. Maybe im a loner but im still feels blessed with what Lord giving us without we asking it first.

            I wanna be free. Without any social disorder who wanna rules my lives. Without anyone who rudely asked to me just to feels their live easier with badword at me. I don’t need what they bubly fake said everyday. I don’t want the boredoom who tied them apart. I don’t need buy any fancy stuff just to feel “high” in their eyes. I just wanna simply enjoy my days without any fake excuses. I don’t need, any. Really.

            Freed my soul feel my pain, sunshine.
           
           
           
           

Diary Dodolku #1


“ Ketika cemburu menguras jeding ”

              Kami sepasang kekasih baru yang bertemu via mention twitter ala kakak adikan. Yah, sebut saja namanya mas. Dia kakak kelasku semasa SMP dulu, dimana dia sohib sepermainan mantanku. Tenaaaaang pemirsa~ mantanku yang itu kini telah naik jabatan dari mantan jadi teman. Kalau mantan jadi kenangan itu mah kamu mbloo~ makannya muvon dong~ hahahaha :D
              Jangan bayangkan kami seperti pasangan kebanyakan yang baru jadian bak perangko lengket di jari, nemplek, ngeselin tapi gak mau dipisahin. Bukan saya bukan perangko dan kami tidak seperti itu. Mas menolak pamer kemesraan di dunia maya dan memilih merajutnya via pesan singkat yang intens antara kita berdua. Tak lupa rindunya disampaikan lewat panggilan telepon atau lebih singkat kata, kami pejuang LDR. Long Distance Relajauhjauhanship. :D 943 km memisahkan kita berdua, tak jadi masalah buatku, walaupun kadang gemes rasanya pengen meluk kalau lagi sendu, apadaya tangan tak sampai cuma bisa meluk tembok doang. Yaaaaa 11 – 24 hla rasanya~ :D
               Mas sosok unyu yang menggemaskan, tapi jangan bayangin dia semacam kucing persia,vro! jangaaaaan~ dia milikku bukan piaraanmu nak! :P Mas orangnya easy going, ramah, suka ngebanyol, suka menolong dan suka nyemil lontong. Singkat kata dia tambatan hati yang saya sayangi segenap jiwa raga demi Indonesia Raya. #uopoiki. Mas ini orangnya unik. Diantara ribuan pria yang ada di Indonesia ini, mas masuk kategori langka dan perlu dilestarikan, Yap! Mas anak kembar! Dan malangnya, kembaran mas ini sama edannya dengan mas, hobby ngebanyol ala srimulat! :D mereka berdua itu seperti telpon genggam dan chargernya, satu kesatuan dan tak bisa dipisahkan (aku macak powerbanknya aja deh :P). kalau kamu pikir saya susah, anda salah bro, aku malah seneng punya kekasih kayak mas. Secara beli satu gratis satu gitu~ hahahaha :D *mindset emakable banget yee*
          Cerita dodol itu bermula pada pagi hari, ketika ayam lupa berkokok dan saya masih kedip kedip unyu diatas kasur. Sembari mengumpulkan nyawa, akhirnya saya berkeliaran didunia maya via twttrr. Scroll hinggap kesana kemari tiba tiba mata saya nyangkut di posting statusnya mas yang makhlaaar! membuyarkan kantuk, menusuk nusuk.
 
 
trus aku kudu piye :(

        Sumpah, hatiku mendadak cenut cenut, bukan dalam artian lagunya sm*sh, vro. Lebih mengarah ke cenut cenut sakit yang mendadak bikin kamu pengen bungee jumping di jembatan suhat dan sedikit ngarep talinya putus. Iya. Tali kutangnya #eh :P Sambil meratapi kemalangan saya pagi itu, menerka nerka kira – kira perang batin apa yang akan saya hadapi, mulai deh rapat terbuka didalam kepala yang kira kira kayak gini dialognya :
                 
Hati : “ sumpah bro! sakit clekit clekitttttt! Yakin kamu mau diginiin terus bro?”
Otak : “hmmmm~ iya sih sakit. Tapi ini kan ga jelas sapa yang nulis. Sapa tau mas kembar  yang              satu lagi. Hayooooooo kamuuu hayoooooooo~”
Hati : “status ini beneran buat mantannya deh. Secara dia kan kapan hari curhat mau di tinggal                         nikah duluan. Yakinlah sumpah ini buat mbag cantik-7tahun-siasia itu deh bro!”
Otak : “piye kalau kita klarifikasi ajadeh dulu~ kalau bener iya. Udah gulung tikar aja deh!”
Hati : “ OI, otak~  yang sayang siape? Enak aje main gulung tikar, gulung tikar, didalem sini                            sayang banget tauuuuuu~ ”
Otak : “ tapi si mas ga bisa muvon gitu. Trus buat apa nak? buat apaaaa~ ”
 Hati : “Bangke koe tak! Tak ajar mawot mawot weee~ ”
 Otak : “ AYOK AKU RA WEDI! “

               Dan akhirnya otak dan hati saya bergelut tidak sinkron, berantem dan lalu jadi gila. Sembari menghapus air mata yang ga tau malu tiba tiba menitik rintik rintik, saya memberanikan diri menulis pesan singkat menanyakan kepadanya mengenai kevalidan postingan tersebut.
 

                Dengan polosnya dia membalas smsku dengan sedikit ngantuk dan masih kucel. “ iya dhek. Itu buat mbag itu. Bentar lagi dia mau nikah vro. Udah ah jgn dibahas lagi. Nyesek ini.” Kira kira seperti balasan smsnya waktu itu (soalnya barang bukti udah kehapus) HLAAAAAR! Seketika hatiku menimbulkan bunyi : “krataaaaaak~ krataaaaak~”  berserakan dan nyaris ke sapu pas bersih bersih. Seketika emosi jiwa pun membara. Pengen salto rasanya saking ga habis pikir sebegitu-ga-bisa-muvonnya yah sampai sampai ditinggal nikah aja nyesek sampai di posting dan pengen nyanyi wedi karo bojomu. DUH~
                Telpon genggam berdering, tak ku gubris dan memilih nyemil gubis sambil nangis nangis. Sebenernya terbesit keinginan pengen denger penjelasan langsung dari bocahnya live via telepon, tapi emosi udah kadung merajalele dan dalam hati aku berujar gemes “ Pokoknya panggilan ke – 50 baru aku angkat biar nyahok dah! Rasain! ” dan kesialan demi kesialan akhirnya menyapaku hari itu.
                Pagi itu serba salah rasanya. Pengen nulis TA kok hati mawut mawut. Perut senep. Kepala mules. Saya pun curiga “Wah, jangan jangan tamu bulanan mau ngapel nih!” dan ternyata benar permirsa, saya “dapet”. Fluktuasi hormonal bikin semuanya tambah kacau balau. Yang pertama Cuma level kesel sama si mas sekarang ganti status jadi AWAS! Bini galak! *woi bukan guk guk woi!!* sepagian dari jam 9 pagi sampai jam 1 siang saya habiskan madep duduk manis di depan laptop, berurai air mata, dan cuma dapet satu paragraf. Hape berdering, ku tengok dari temen main isi pesannya ngajak saya nonton ari lasso gratisan soalnya kampus lagi ulang tahun. Senyum pun mendadak merekah. Wah kebetulan hati saya lagi remuk redam nih! seketika itu pula saya menyanggupi permintaan kawan saya tersebut. Malang tak dapat di hindari apes apalagi, pukul 3 sore kawan saya mengabari kalau mereka kehabisan tiket. Gagal sudah harapan nonton konser gretongan demi memperbaiki suasana hati. Sembari mimbik mimbik, ku raih teko dan menjungkirnya tapi tak ada air yang menetes, ku angkat galon dan mengintip isinya, ternyata air tersisa seukuran aqua gelas. Komplit sudah ngenes sesorean itu.
                Hapeku tak lelah berdering, kutengok males malesan ternyata dari mas dan pukul 5 waktu itu sudah mencapai panggilan ke 39. Usaha mas merayu cukup teguh juga, sempat terbersit ingin menyerah dan menjawab teleponnya sembari bermesraan tapi ku tahan demi tercapainya panggilan ke 50. “Yah, sekali kali lah~ biar ngecenya maksimal” ujarku dalam hati sembari membayangkan wajahnya yang cantik dan menggemaskan lagi manyun bin badmood.
                Pukul 20 : 32 akhirnya tercapai keinginan saya sesorean ini. Panggilan ke 49 sudah saya abaikan dan tak lama kemudian . .


49 missed call and finally miss you~ #eaaaaaa

                Setelah ku angkat telponnya dan melalui berbagai cobaan serta klarifikasi, ternyata oh ternyata pemirsa ini cuma salah paham semata. Pelaku dan tersangka utama yaitu dan tak lain dan tak bukan *jeng~jeng~jeng~* Mas kembar satunya lagi!!! Jengkel campur geli campur gemes campur aduk jadi satu. Saking gemesnya akhirnya keceplosan kata mutiaraku kalau lagi mangkel, lupa dan loss~ (pas waktu itu saya bilang “jangkrik” dengan nada tiga oktaf sembari gemes pengen ngrawuk pipi orang). Setelah puas nangis hua – hua dan bikin si dia panik. Akhirnya setelah clear semua problematika rumah tangga kami pun bermesraan lagi . . via telepon. :D
Point dari diary dodolku kali : kalau pacar kalian ngambek, sejelek apapun raut mukanya pas nangis mewek, usahakan merayu dengan segala cara dan intensitas sebanyak banyak. Kami (wanita) tidak melihat bentuk rayuannya tapi kami melihat kesungguhan niat ngajak baikan. Sampai jumpa di series dodol yang lainya yah vroooooo~~~ C I A O O! :3