Kamis, 10 Maret 2016

Cinta itu (The Newest) Horor Story



Akhir – akhir ini saya suka geli ketika tanpa sengaja melihat pemandangan orang pacaran. Iyes, pembacaku yang budiman, PA – CA – RAN. Ada yang asyik suap – suapan kayak anak burung minta disuapin emaknya, ataupun mas – mas pasrah yang tangannya digandeng dan ditarik paksa kesana kemari lalu tersesat kedalem toko yang isinya baju – baju kekinian atau malah toko lingerie yang bikin keki. Belum lagi ngliatin mas ganteng yang tampilan machonya sedikit ternodai cuma gara – gara “terpaksa” dengan berat hati nentengin tas cewenya yang lagi kalap belanja ini dan itu dan dia nyempil di depan pintu toko dan lucunya lagi ga cuma seekor, bahkan bisa 4 – 5 orang berdiri barengan, diem - dieman dan saling ketip – ketip di pojokan tiap kali saya nyasar hilang arah di mall. Kadang cinta itu lucu ya?
(Maafkan sarkasme jomblo ini yak? Maklum makin tua, makin nyadar [mungkin] dulu juga pernah khilaf kayak gitu or at least seberlebihan oknum – oknum ini. hehehe.)

Ada banyak hal yang bikin cinta itu horor di masa – masa ini, yang kesemuanya oleh – oleh dari masa lalu yang kebanyakan jadian putus ganti lagi jadian lagi dan putus lagi lalu akhirnya jomblo hopeless lagi. Tanpa kita sadari kayaknya udah suratan takdir kita diharuskan belajar lagi dari awal tentang karakternya, hobinya, makan favoritnya, kebiasaan yang ga disukainya, sampe hobi ngentut plus kata misuh favoritnya dan banyak lagi setumpuk nya nya-nya. Capek men belajar mulu, ke KUAnya kapan dong!

Memahami manusia itu susah sob. Wong kadang kita memahami diri kita sendiri masih sering sesatnya kok. Apalagi mahamin anak orang yang secara ga langsung isi dikepala, kepribadian sampe mindsetnya beda total. Sampe kucing garong insyaf pun kamu ga bakal 100% mahamin si doi luar dan dalem. Udah kamunya di luar aja, jomblo mah ga boleh main ke dalem kalo belon siap di todong "kapan rabi lee?"

Sudah jadi rahasia umum kalo awal pacaran pasti pada demen nyari kesamaan di semua sektor dan di semua lini yang si doi dan kita miliki. Pun sudah jadi rahasia juga kalo endingnya pasti bakal nyari – nyari perbedaan mendasar cuma buat alasan biar bisa pisahan. Aelah kalian mau nyayangin anak orang ape mau ngatur strategi neraca untung rugi sih? Kebaca banget polanya, situ jangan - jangan renternir yak? apa Debt collector? kok serem gitu itung - itungannya hahahaha

Dan makin tua bikin rentetan di kepala kalian makin horor, belum lagi di todong dan di cerca pertanyaan dhoif yang walaupun inem agak sedikit macho pun dibuat gentar olehnya : “kapan nikah, nem?” (boro – boro kapan! calonnya aja masih antri pre order -___-)
Dan pertanyaan geli – geli aw tadi sukses bikin inem laper tengah malem, nulis blog yang kontennya agak nglindur ini sambil ngrebus indomie walaupun nyadar bodi udah kayak sapi. 

Mari kita salahkan cinta sebagai dasar pengaburan logika yang disebabkan olehnya serta luka dan derita berkepanjangannya. 

Tanpa kita sadari cinta itu makin kesini makin konsumtif. Konsumtif menggerogoti kepala dan hati dengan hal – hal yang melenceng jauh dari dunia nyata. Misal nih diskusi pelik sama diri sendiri dengan topik : ngbayangin dia lagi ngapain ya? Lagi ngobrol sama siapa ya? Udah makan apa malah mati ya? Dia lagi mikirin siapa ya? Dia lagi ngepoin siapa ya? Mantannya siapa aja ya? Bohay ga ya? Cantik dan gantengan sapa ya? Dulu ngapain aja ya? Menurut dia aku udah cantik apa ganteng ga ya? Aku gendutan ga ya? Apa yang aku udah korbanin semua muanya buat dia udah cukup ga ya? Dia bahagia sama aku ga ya? Dia futsal pake peluk – peluk sayang sama temen lakiknya ga ya? Pacar aku LGBT ga ya? Dia nyepik manis manis sepet ini buat aku aja apa sama orang lain dan semua cewe kayak gitu ga ya? Dia sebenernya serius sama aku ga ya? Dia sayang sama aku ga ya? Dia main belakang nikung kanan kiri ga ya? Kapan dia nglamar aku ya? Apa dia makin depresi ngbaca ini ga ya? 

Walaupun sudah berkomitmen dengan teguh tidak menjamin keraguan samar – samar itu tidak mampir dan terbersit diam – diam di kepala kalian. Dan sedikit demi sedikit ragu itu berdampak pada hubungan yang susah payah dirajut sama - sama. Semakin meragu lalu hati pun ikut – ikutan semakin ngblur dan akhirnya makin galak dan insecure sudah pacar – pacar kalian. Mempercayakan hati sepenuhnya pada orang lain memang tak semudah nembak menye – menye klise di awal, kawan.
Disini saya mulai paham kalau komitmen itu tidak menjanjikan tidak ada yang tersakiti satu sama lain, tapi lebih ke dia worth to suffer for ga. Makannya makin males pacaran, karena menurut hemat saya, saya ini masih aja ga pantes – pantes amat buat worth to suffer for – nya si mas calon. Calon lurah nem? iYES.

Belum lagi – lagi bayang traumatik sisa – sisa cerita emak bapak yang makin kesini bikin ide menikah ga segampang cuma berangkat ke KUA doang yang penting sangu cinta. Inem sih berangkat, paling juga mlipir beli ikan hias doang di depan KUA itu. Hehehe.

Walaupun makin skeptis, Saya masih bercita - cita membahagiakan dia yang kelak tidak akan pernah pergi untuk selamanya, kok. Tapi sebelum itu saya masih mau menyibukan diri dan membahagiakan diri sendiri dan lingkaran tersayang di sekitar. Biar pun udah tua, saya ga mau menikah cuma karena terpaksa “udah umur”, “apa kata orang” atau sekedar “ga laku” lalu asal nyomot yang mau sama inem aja. Duile! sekali seumur idup mblo, yakin mau memperpanjang masa ngenes kamu selanjutnya? inem sih cukup jaman - jaman jomblo aja ngenesnya, udah kenyang sih!

Sudah pasti jalan idup tiap orang itu berbeda – beda, tapi bolehin inem ngarep cukup menikah sekali seumur idup yes? Biar besok kalo di surga gampang nyariinnya, kan si mas yang udah berjasa nganterin kesananya. Hehehe.

Inem memang pemilih yang super selektif, tapi buat apa juga milih ini itu kalau dianya ga ikhlas mau sama kamu #eaaaaaaaa dipilih dipilih kutang anti dom - domannya dipilih kakaaaaaaaaak!

Udah jangan gupuh mblo! Mungkin jodoh kamu lagi dijagain sama jodohnya orang lain. Semangat merebut dia kembali ke lintasan yang bener menuju hatimu yak! M A N G A T S M B L O!

dari inem yang belum di pilih dan melaju ke babak penyisihan selanjutnya.




Minggu, 28 Februari 2016

A S A (p)


            Adakah yang lebih perih dari merindukan seseorang yang bahkan kamu pun tak pernah tahu apakah bayang tentang dirimu pernah melintas di benakknya walau sedetik saja? dan lucunya, setiap kali gadis itu merindu yang ia tahu hanyalah migraine di kepalanya akan menyiksanya. Seakan siksaan di batinnya saja tidak pernah cukup untuknya. Ia harus menderita sedemikian rupa hanya untuk sesosok laki – laki yang bahkan tak tahu ia kini nyata dan ada.

            Gadis itu, seakan sudah sangat terbiasa dengan sapaan dentuman migraine di kepalanya, meraih dompet bergaris hitam putih kumal, membuka dan melirik isinya, yang hanya nampak selembar uang sepuluh ribuan dan dua lembar limaribu tergeletak lemas di dalamnya. Ia tahu ia harus bertahan hidup untuk dua hari ke depan, tapi ia butuh pengalihan agar hatinya tak lagi berdenyut sakit. Perlahan seakan sudah membulatkan tekad untuk mengambil keputusan terbodohnya malam itu, ia raih kunci kosan yang bergantung kunci gelang tangan berwarna merah muda, mengunci pintu dan meraih sandal jepit merah hitamnya. Menapak lunglai seakan tak pernah ada senyum manis yang mengantung di tepian bibir mungilnya.

            Seketika setelah menutup pagar, ia tahu keputusannya saat itu adalah keputusan paling konyol yang dia ambil, tapi ia tetap melangkah dan berkeras hati tak ingin berbalik walau udara malam itu cukup dingin menusuk tulang untuk gadis yang hanya mengenakan t-shirt biru gelap bertuliskan good morning vietnam dan celana pendek batik tipis kedodoran. Mendadak ingatannya terpaku pada jaket jeans abu – abu yang tersampir di balik pintu kamarnya dan menyesal tak meraih gesit jaket itu saat melewati dan menutup pintu kamarnya tadi. 

            Ia menyibukkan kepalanya dengan mengamati orang – orang di sekitaran jalan raya yang kini nampak sepi. Ia sedang malas berasumsi, yang ia tahu hanyalah plang berpendar besar bertuliskan nama gerai toko waralaba yang berjarak sekitar 50 meter dari kakinya melangkah. Ia abaikan begitu saja tukang nasi goreng yang memukul wajan dan butiran nasi yang melompat semangat. Ia mencoba membuat buta indra penciumannya yang otomatis membuat gemuruh di dalam perutnya. Ia tidak peduli ia lapar, ia hanya ingin melangkah dan terus melangkah lalu pulang dengan cepat.

            Tahu – tahu gadis itu sudah berada di depan toko yang lampunya bersinar terang berlebihan seakan tidak ada lagi desa terpencil yang membutuhkan nyalanya. Ia mendorong pegangan pintu dengan malas, tanpa mengitari etalase yang memanggil – manggil mengoda, merayu dan mencoba menyesatkannya, ia langsung saja menghampiri kasir yang kosong. Sepertinya petugasnya asyik menata rak – rak itu atau tengah bergosip, entahlah, matanya terpaku pada kotak – kotak mungil yang tertata rapi di sebrang tempat ia berdiri. Beraneka macam dan warna serta harga yang tercantum nampak begitu memikatnya. Ia bahkan tidak peduli dengan sekelilingnya, matanya hanya terpaku pada kotak mungil yang sanggup menguras isi dompetnya, yang bahkan mengenyangkan perutnya saja tidak.

            Tak lama kemudian, pegawai kasir itu menghampirinya, bahkan sebelum pegawai itu sempat berbicara, ia menyeletuk ringan sambil menunjuk “mbag yang itu berapaan ya?” ia bahkan tak peduli pada antrian gadis dibelakangnya yang mulai berbisik berisik. “10.900 kak, mau pake kantong atau ngga mbag? Kalo pake nambah 200 perak mbag.” Ujar penjaga kasir tersebut, nadanya lelah dan dingin, seakan kalimat yang keluar dari bibirnya sudah terprogram bak robot buatan jepang. Padat, dan begitu saja. “ga usah mbag” sembari menyodorkan selembar sepuluh ribuan dan lima ribuan. Ia meraih kotak mungil berwarna putih dan kembalian dua lembar dua ribuan miliknya. Ia bahkan tak meributkan kembaliannya yang kurang seratus perak, padahal ia terbiasa bawel dan membuat kesal pegawai tersebut karena keadilan 100 peraknya. Nampak kalut seakan membuatnya melupakan protesnya, melupakan sebagian dirinya yang hanya bersisa hampa dan sekotak rokok paling murah yang bisa ia beli.

            Ia memaki pelan saat melangkah pulang, ketika meraih saku celana pendeknya dan tak menemukan korek api magenta kepunyaanya. Sembari mencoba mengingat dimana benda kecil itu tergeletak, ia meraih pagar coklat yang tak pernah terkunci, dan menutupnya asal – asalan. Di kepalanya terbayang pemantik bercorak kerlap – kerlip yang ada di dalam asbak kaca tebal di atas printer di sudut kamarnya. Segera saja ia meraih kunci dan membuka pintu masuk kosannya dengan tak sabar.

             Saat ia tengah menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua, ia memelankan langkahnya, mencoba membuat sepelan mungkin derap kaki yang bisa ia buat. Ia hanya sedang tak ingin berbincang dengan penghuni kamar yang lain. Moodnya saat itu, ditambah dengan denyutan rasa sakit yang pelan – pelan mengrogoti nampaknya cukup untuk melumpuhkan sekumpulan singa di padang savana. Ia hanya tak ingin melampiaskan apa yang seharusnya hanya laki – laki itu ia timpakan penderitaannya, pada orang lain yang tak bersalah. Pada kakak kos yang selalu saja berbaik hati menawarkan sisa nasi dan lauk seadanya. Pada gadis yang lebih tua darinya dan ia tolak tawaran itu dengan sopan walaupun perutnya melilit riuh seakan tengah konser dangdut.

            Ia membuka pintu kamarnya dan segera saja tergeletak di atas karpet plastik berwarna biru terang yang terhampar di lantai. Ia sejenak melupakan kotak putih itu yang tersungkur tak berdaya didekat dompetnya. Kerutan di dahinya menandakan perjalanan singkatnya itu mengkali lipatkan dentuman perih di kepalanya. Membuat migraine menari riang atas dirinya. Dan ia hanya berbaring diam. Menikmati setiap satuan rasa sakitnya dan mencoba merelakan semua rindu tak bertuan miliknya. 
 
            Menit demi menit berlalu. Ia masih saja nampak terdiam menyesakkan. Bahkan melawan saja ia tak sanggup. Kombinasi keduanya sungguh melemahkan raga yang nampak pernah berisi itu. Ia tak hanya bergelut dengan keduanya, kesepian dalam hati berdebunya seperti turut andil pada perih yang tengah memporak porandakan pertahanan tubuhnya. Merajam setiap inci bagian dirinya yang nampak letih dipermainkan asa dan harap. Harap tak berbalas miliknya seorang. Ditengah kekacauan itu, ia hanya menutup matanya damai. Mencoba dengan susah payah merelakan semuanya. Merelakan air matanya menitik pelan tanpa ia sadari, merelakan kepalanya yang seakan – akan mau pecah berkeping - keping, dan merelakan hatinya yang remuk berserakan. 

            Ia meraih pelan kotak kecil itu dengan tangan kanan yang menggapai – gapai asal. Merobek plastik bening dengan cepat dan tak lupa membalik salah satu batang rokoknya lalu meletakan lagi ke dalamnya. Ia raih satu batang yang lain dengan tangan kiri dan lalu melempar kotaknya begitu saja, sembari mencoba meraih asbak kaca yang berada di atas printer di sisi kanannya. Asbak itu terjatuh dan pecah dengan suara keras. Ia tetap saja tak menggubrisnya dan mengambil korek api kelap – kelip yang terlempar, sesaat setelah terjatuh, didekatnya. Korek api itu menyala terang dengan nyala api yang nampak tak seperti korek api biasa. Bara apinya mengumpul runcing dan rendah di dekat pemantiknya dengan warna biru yang tercampur semburat hijau. Bara yang memeluk ujung tembakau seakan kawan lama yang tak pernah bersua.

            Pelan dan dalam diam, kamar itu hanya terisi asap tipis dan kehampaan. Rasa sakit di kepalanya perlahan memudar seiring memendeknya batang rokok itu. Kepalanya boleh saja tak begitu sakit, tapi hatinya tetap saja ngilu. Seakan tersumpal sesak dan siap meledak ke semua penjuru. Harapan bodoh sesaat setelah menyalakannya tak lagi jadi nyata. Ia tetap saja sakit. Dan kepalanya melanglang buana pada satu ingatan yang tak mau pergi. .

            Selarik senyum pada laki – laki jangkung berkacamata, pada jembatan kota berkarat nan sepi, di tengah lalu lintas yang sibuk wara – wiri di bawah kaki mereka dan senyum terlupa pada sang gadis. Riuh tawa seketika membuncah saat mereka sibuk memperhatikan layar digital pada kamera poket mungil yang ada di tangan. Bahkan perih di belakang pergelangan kaki kanannya tak mampu mengusik hati sang gadis yang mendadak seakan mengambang ringan kala itu. Tatapan teduh mata lelaki itu yang menyembunyikan semua rahasia yang tak pernah terucap. Pada lentik jemari sang gadis yang mencoba menggapai asa di balik punggungnya yang berjalan di depannya dalam diam.

            Kenangan itu memudar menipis seiring kepulan asap yang tersisa dari putung yang hampir padam pada jemarinya yang tergeletak, dan mata muram itu mulai terlelap letih, tak lagi pernah terbuka untuk masa sepi yang ada di depannya.

2:32, 2/25/16

 


Sabtu, 12 Desember 2015

Ketidakpastian adalah Hal yang Pasti


Semalam (fyi : 28 oct) kami habiskan di lautan massa yang riuh. aku dan kawan baikku, Rahma dan Vivi, duo hippies yang selalu saja sukses membuat kram perutku dengan bayolannya yang khas, mengajakku pergi nonton. Bukan, kami bukan tipikal cewek pada umumnya yang pergi nonton ke bioskop dan duduk ketip – ketip cantik, kami pergi nonton konser atau lebih tepatnya gigs. Kami rela antri panjang dan uyel – uyel keringetan demi jingkrak – jingkrak sing along sama mas atau lebih tepatnya om Duta, yang walaupun anaknya (kalo ga salah) udah 3 masih aja tetep gantengnya allhamdulillah.

Sheila on 7, band yang berasal dari Jogja yang dari SD udah sering aku puter kasetnya bolak – balik sampai tape recordernya ngambek itu udah kesekian banyak kalinya tampil di Malang. Walaupun kemarin rasanya beda dari gigs sebelumnya. Entah kenapa walaupun Dome UMnya penuh tumplek blek sama anak muda harapan bangsa yang kekinian, rasanya atmosfirnya garing, ga seseru biasanya yang pada kompak lompat berjama’ah. Perhaps, karena check soundnya yang kelamaan atau panitianya yang kedunyan (atau bahasa indonesianya : mata duitan) karena tiketnya ga di batesin jadilah mbludak sembludak – mbludaknya. (dan usut punya usut dome UM yg kapasitasnya cuma 6000 itu kemarin waktu acara yg dateng 7000an lebih kata rahma, pantes aja oksigen pada berebut kayak ikan megap – megap, hla over capacity men!) Bayangin aja udah nunggu lama, penuh sesak eh pas SO7nya main pada sibuk angkat kamera diem seribu bahasa yang penting nghits dapet foto keren. Eneg.

Untungnya walaupun (agak) bete, track listnya asik. Malem itu mereka banyak ngbawain lagu yang jarang banget mereka bawain, dari track saat aku lanjut usia, JAP, Dan, sephia, pemuja rahasia dan banyak hits lawas yang saking khusyuknya sing along sampe lupa tadi nyanyi apa aja. Pas tengah asyik menghayati gigs yang tiketnya hampir separoh uang saku ku seminggu itu mendadak jleb momen mlipir dengan indahnya. Iya, aku inget kamu (lagi).

Waktu itu mereka ngbawain lagu Takkan pernah menyesal. Mendadak satu stadion rasanya hening, ada yang diem karena ga hapal liriknya ada juga yang sekedar ngikutin iramanya karena lagunya mellow abis dan ada juga yang karena ngerti lagu ini maksudnya apa mendadak baper akut. Iya, yang terakhir itu aku banget. Permisi kakaaaaaak numpang curcol. (PS: Buat yang ga tau lagunya buruan gih downlod via mbah google, abis gitu cobain deh dengerinnya pake headset trus diresapin liriknya, dijamin bakal mimbik – mimbik berat!)

Dari sebegitu banyaknya laki yang pernah numpang mampir ngasih harapan ataupun jadi mantan, ga tau kenapa kamu satu – satunya personal yang susah banget di lupain or at least, di buat moving on. Buat pembaca setia blognya inem mah tau dong siapa. Ya kalo ga tau sini gih kenalin dulu gih, sapa tau jodoh #eaaaaaa

Saya terkadang bingung memetakan hati ini mau dibawa kemana. Naksir ya ga naksir amat. Sayang kok ya dia ga sayang banget sama saya. Mungkin mari lebih baiknya kita deskripsikan sebagai : obsesi yang ga kesampaian. Udah macem cita - cita jadi penyanyi dangdut gitu deh. Ga bakalan deh kejadian! 

Kadang saking ekstremnya, kangen banget sampai mendadak kumat migraine senat senutnya dan cuma bisa pasrah liatin status last seen kontaknya dia di WA (yang akhir – akhir saya hapus aplikasinya karena khawatir kalo keterusan bakal gila sendiri) kalo ga gitu ujung – ujungnya cuma bisa liatin share artikel favoritmu yang makin kesini makin bikin mikir kayaknya kamu udah punya calon istri dan siap berangkat. Iya, ke KUA. (tenggelemin adek di rawa rawa bang, PLISH!)

Mungkin kalian bakal mikir saya bakalan sedih, nyesek ataupun ekstrimnya lagi pengen loncat dari jembatan suhat. Nope. Ya walaupun saya agak ga waras (obsesinya) dan sedikit berlebihan (depresinya) saya cuma bisa sabar sambil menunggu bayangan gentayangan masa lalu itu berlalu dengan sendirinya. Saya udah di titik dimana cuman bisa ketip – ketip, tabah dan pasrah, ga mau berusaha (krn takut dibilang agresif LAGI) dan kayaknya baru bisa move on pas liat dia diatas pelaminan sama istri idamannya yang kemungkinan besarnya bukan saya. See, im so desperately till I can set my mind in the right track ever again! 

Some good pals said to me, cinta itu baru hakiki kalau kamu ga ngarepin apapun dari dia, bener – bener “pure” kamu pengen liat dia bahagia tanpa ekspektasi apapun. Inget cyn, TANPA EKSPEKTASI APAPUN. Pas dinasehatin macem begitu mendadak ada yang lewat  nusuk dihati deh, jleb aja rasanya. Emang ada yak cinta versi dewa macem begitu? Selama dua puluh tahun lebih dikit sampai sekarang sih saya belom nemuin lelaki macem begini ke saya. Apa sayanya aja yang buta ya? Dunno.

Lucunya, setelah beberapa kejadian, saya baru nyadar kalo saya ke dia kayak gitu. Udah ga pernah ngarepin apa – apa. Kalo dia komen di FB ya allhamdulillah, nomernya ganti, ID Line nya ga tau juga saya cuek bebek ga selebay hebring dulu kala. Dia curhat gebetan barunya yang di imaji saya unyu – unyu kayak dedek jeketi juga saya udah biasa aja. Dipikiran saya sih kalo emang jodohnya ke KUA barengan juga ga bakalan ketuker kan yak? Ya mungkin ke salip mantan or ga jadi beneran sih gpp. As long as I can see his bright smile again, im truly okay. That’s already enough for me. (ya walupun dikepala bayangan jahatnya bakalan dateng walaupun ga diundang kenikahannya, trus ngasih karangan bunga segede gambreng tulisan alay tapi anonim, amplop isi surat patah hati bukan duit, ngabisin dessertnya, dan ga salaman ke atas plaminannya tapi cengar cengir dari pojokan, iya saya bisa segila itu)

Makin kesini makin berasa lagi syuting filmnya you’re the apple of my eyes deh. Walaupun saya nyadar ga secantik aktrisnya tapi cerita ini endingnya bakal samaan deh. I know im pathetic that makes me less pathetic. (pembelaan sob!)

Somehow, makin kesini makin ga tertarik pacar – pacaran. Uda nyadar kalo uda tua, udah ga jamannya lagi disakitin dan nyakitin hati anak orang. Sebenernya banyak sih yang ngedeketin, dari yang modal duit dari belon apa – apa aja udah ngajakin liburan ke lombok (emang ekye cewek apapun, euwh!), ada juga mas suara ganteng yang masih ragu – ragu kayak mau nerabas lampu merahnya jadi apa ngga, ada juga mas mantan yang saben ngchat bawaanya ngode minta balikan aja dan masih banyak segambreng yang lainnya. Tapi hati inem masih aja beku kayak es batu di freezer kulkas, klotak – klotak ga bergeming sama sekali.

Rasanya sepi ga seserem  dulu lagi. Sementara ini latihan masak dulu deh, sambil tutorial macak cantik. Diet ekstremnya ntar aja deh kalo uda fiks mau dipinang, saya masih betah overchubby sih soalnya hehehehe

Mungkin ini semua cuma karena penasaran, mungkin juga masih betah berlama – lama mengenang masa lalu yang hampir jadi abu, atau saya memang baru pertama kali berlarut – larut dalam kepastian yang carut marut. Allahuallam :) saya cuma berharap apapun yang terjadi di masa depan, kamu berbahagia selalu dengan pilihanmu, kawan.

BTW, dapet salam dari om Duta hlo. Iya, salam galauwers! nyahahahaha!


Aku tahu. .
Kisah ini terasa berat di pundakmu
Aku tahu. .
Karena juga begitu berat di bahuku
Coba sayang
Berhentilah meratapi keadaanku
Jangan pernah
Menyerah pada keadaan busuk ini
Apapun yang akan terjadi
Takkan akan pernah aku sesali
Bila menjalani semua denganmu
Bila memahami semua denganmu
Aku
Takkan pernah menyesal!




Selasa, 08 Desember 2015

Sekejap, Menghilang.



Jika kau berpikir cinta itu buta, coba cek sekali lagi hatimu. Siapa tau saja dia sedang sekarat atau bisa saja dia cuma lelah. Ya, cinta butuh alasan. Alasan untuk bertahan, alasan untuk menerima semua kealpaannya tanpa terkecuali. Alasan untuk tak kehabisan topik mengapa dia bisa datang begitu saja tanpa permisi.

Begitu juga kamu.

Tak sengaja saat iseng mengomentari fotomu yang terpajang bak iklan mencari jodoh. Adakah yang lebih kuat dari dua orang yang sama – sama tengah mencari? namun kala itu kamu terlalu menggebu. Membuatku khawatir. Takut menghancurkan harap tinggimu dengan kenyataan yang tak semanis foto pose cantikku, yang bisa dibilang, terbatas jumlahnya itu.

Entah sepi yang mempertemukan atau apalah, saat itu jadi begitu menyenangkan, mengobrol dan bertukar cerita bahkan tak jarang berbagi duka pun jadi topik sehari – hari. Kamu cukup tampan, jujur ku akui. Tapi aku tak mudah gentar dengan lelaki tampan. Bukan hanya itu yang aku cari.

Aku membarikade hatiku agar tak mudah jatuh padamu dan mendadak pagar fana itu lenyap saat bertemu pertama kali. bukan rupamu, namun suaramu. Ya suara indah yang akhir – akhir sering menghantui. Bahkan sunyi tak lagi menarik jika ada kamu bercerita panjang dan seru.

Belajar dari hari lalu, aku ingin menyamarkan sebisa mungkin, agar tak nampak berlebihan. Aku tak ingin kamu jengah dan pergi dengan pongah. Aku usahakan sebisanya menghias harimu. Bahkan chat tak berbalas dan kondisi hatimu yang masih suka susah lupa dengan kisah yang dulu, pun aku terima tanpa banyak keluh. Tapi apalah aku di matamu.

Lucunya, akhir – akhir ini aku tak lagi sanggup membendung ingin yang selalu saja berlari kearahmu. Bias – bias itu terpeta jelas dimata kita berdua yang sama – sama bungkam. Memilih pedihnya jalan sepi demi hati yang tak tersakiti lagi.

Dan aku mulai lelah. Adakah yang lebih perih ketika mencari dan menyadari ia berlari pergi? Aku tak bisa memaksamu untuk tetap tinggal. Aku pun tak bisa memaksa hatiku untuk memelukmu erat. Bahkan untuk sekedar menyapamu aku tak lagi sanggup.

Hati ini berbisik lirih. Mungkin kamar gelap itu sekali lagi menghampiri. Tak apalah, selagi nadi masih berdenyut lemah, hatiku boleh saja terkulai tragis. Semoga saja disana sunyi tak membuatmu susah, dan semoga saja berikutnya tak lagi mengiris hatimu sadis.

Selamat jalan hai kamu yang pernah mampir, tak pernah mulai dan lalu tak kembali.

Maaf, aku (sudah) kehabisan alasan untukmu.

Dalam memoar bangku halaman kos, terkunci portal dan kue jepang yang tak sampai.