Minggu, 02 Maret 2014

Diary Dodolku #1


“ Ketika cemburu menguras jeding ”

              Kami sepasang kekasih baru yang bertemu via mention twitter ala kakak adikan. Yah, sebut saja namanya mas. Dia kakak kelasku semasa SMP dulu, dimana dia sohib sepermainan mantanku. Tenaaaaang pemirsa~ mantanku yang itu kini telah naik jabatan dari mantan jadi teman. Kalau mantan jadi kenangan itu mah kamu mbloo~ makannya muvon dong~ hahahaha :D
              Jangan bayangkan kami seperti pasangan kebanyakan yang baru jadian bak perangko lengket di jari, nemplek, ngeselin tapi gak mau dipisahin. Bukan saya bukan perangko dan kami tidak seperti itu. Mas menolak pamer kemesraan di dunia maya dan memilih merajutnya via pesan singkat yang intens antara kita berdua. Tak lupa rindunya disampaikan lewat panggilan telepon atau lebih singkat kata, kami pejuang LDR. Long Distance Relajauhjauhanship. :D 943 km memisahkan kita berdua, tak jadi masalah buatku, walaupun kadang gemes rasanya pengen meluk kalau lagi sendu, apadaya tangan tak sampai cuma bisa meluk tembok doang. Yaaaaa 11 – 24 hla rasanya~ :D
               Mas sosok unyu yang menggemaskan, tapi jangan bayangin dia semacam kucing persia,vro! jangaaaaan~ dia milikku bukan piaraanmu nak! :P Mas orangnya easy going, ramah, suka ngebanyol, suka menolong dan suka nyemil lontong. Singkat kata dia tambatan hati yang saya sayangi segenap jiwa raga demi Indonesia Raya. #uopoiki. Mas ini orangnya unik. Diantara ribuan pria yang ada di Indonesia ini, mas masuk kategori langka dan perlu dilestarikan, Yap! Mas anak kembar! Dan malangnya, kembaran mas ini sama edannya dengan mas, hobby ngebanyol ala srimulat! :D mereka berdua itu seperti telpon genggam dan chargernya, satu kesatuan dan tak bisa dipisahkan (aku macak powerbanknya aja deh :P). kalau kamu pikir saya susah, anda salah bro, aku malah seneng punya kekasih kayak mas. Secara beli satu gratis satu gitu~ hahahaha :D *mindset emakable banget yee*
          Cerita dodol itu bermula pada pagi hari, ketika ayam lupa berkokok dan saya masih kedip kedip unyu diatas kasur. Sembari mengumpulkan nyawa, akhirnya saya berkeliaran didunia maya via twttrr. Scroll hinggap kesana kemari tiba tiba mata saya nyangkut di posting statusnya mas yang makhlaaar! membuyarkan kantuk, menusuk nusuk.
 
 
trus aku kudu piye :(

        Sumpah, hatiku mendadak cenut cenut, bukan dalam artian lagunya sm*sh, vro. Lebih mengarah ke cenut cenut sakit yang mendadak bikin kamu pengen bungee jumping di jembatan suhat dan sedikit ngarep talinya putus. Iya. Tali kutangnya #eh :P Sambil meratapi kemalangan saya pagi itu, menerka nerka kira – kira perang batin apa yang akan saya hadapi, mulai deh rapat terbuka didalam kepala yang kira kira kayak gini dialognya :
                 
Hati : “ sumpah bro! sakit clekit clekitttttt! Yakin kamu mau diginiin terus bro?”
Otak : “hmmmm~ iya sih sakit. Tapi ini kan ga jelas sapa yang nulis. Sapa tau mas kembar  yang              satu lagi. Hayooooooo kamuuu hayoooooooo~”
Hati : “status ini beneran buat mantannya deh. Secara dia kan kapan hari curhat mau di tinggal                         nikah duluan. Yakinlah sumpah ini buat mbag cantik-7tahun-siasia itu deh bro!”
Otak : “piye kalau kita klarifikasi ajadeh dulu~ kalau bener iya. Udah gulung tikar aja deh!”
Hati : “ OI, otak~  yang sayang siape? Enak aje main gulung tikar, gulung tikar, didalem sini                            sayang banget tauuuuuu~ ”
Otak : “ tapi si mas ga bisa muvon gitu. Trus buat apa nak? buat apaaaa~ ”
 Hati : “Bangke koe tak! Tak ajar mawot mawot weee~ ”
 Otak : “ AYOK AKU RA WEDI! “

               Dan akhirnya otak dan hati saya bergelut tidak sinkron, berantem dan lalu jadi gila. Sembari menghapus air mata yang ga tau malu tiba tiba menitik rintik rintik, saya memberanikan diri menulis pesan singkat menanyakan kepadanya mengenai kevalidan postingan tersebut.
 

                Dengan polosnya dia membalas smsku dengan sedikit ngantuk dan masih kucel. “ iya dhek. Itu buat mbag itu. Bentar lagi dia mau nikah vro. Udah ah jgn dibahas lagi. Nyesek ini.” Kira kira seperti balasan smsnya waktu itu (soalnya barang bukti udah kehapus) HLAAAAAR! Seketika hatiku menimbulkan bunyi : “krataaaaaak~ krataaaaak~”  berserakan dan nyaris ke sapu pas bersih bersih. Seketika emosi jiwa pun membara. Pengen salto rasanya saking ga habis pikir sebegitu-ga-bisa-muvonnya yah sampai sampai ditinggal nikah aja nyesek sampai di posting dan pengen nyanyi wedi karo bojomu. DUH~
                Telpon genggam berdering, tak ku gubris dan memilih nyemil gubis sambil nangis nangis. Sebenernya terbesit keinginan pengen denger penjelasan langsung dari bocahnya live via telepon, tapi emosi udah kadung merajalele dan dalam hati aku berujar gemes “ Pokoknya panggilan ke – 50 baru aku angkat biar nyahok dah! Rasain! ” dan kesialan demi kesialan akhirnya menyapaku hari itu.
                Pagi itu serba salah rasanya. Pengen nulis TA kok hati mawut mawut. Perut senep. Kepala mules. Saya pun curiga “Wah, jangan jangan tamu bulanan mau ngapel nih!” dan ternyata benar permirsa, saya “dapet”. Fluktuasi hormonal bikin semuanya tambah kacau balau. Yang pertama Cuma level kesel sama si mas sekarang ganti status jadi AWAS! Bini galak! *woi bukan guk guk woi!!* sepagian dari jam 9 pagi sampai jam 1 siang saya habiskan madep duduk manis di depan laptop, berurai air mata, dan cuma dapet satu paragraf. Hape berdering, ku tengok dari temen main isi pesannya ngajak saya nonton ari lasso gratisan soalnya kampus lagi ulang tahun. Senyum pun mendadak merekah. Wah kebetulan hati saya lagi remuk redam nih! seketika itu pula saya menyanggupi permintaan kawan saya tersebut. Malang tak dapat di hindari apes apalagi, pukul 3 sore kawan saya mengabari kalau mereka kehabisan tiket. Gagal sudah harapan nonton konser gretongan demi memperbaiki suasana hati. Sembari mimbik mimbik, ku raih teko dan menjungkirnya tapi tak ada air yang menetes, ku angkat galon dan mengintip isinya, ternyata air tersisa seukuran aqua gelas. Komplit sudah ngenes sesorean itu.
                Hapeku tak lelah berdering, kutengok males malesan ternyata dari mas dan pukul 5 waktu itu sudah mencapai panggilan ke 39. Usaha mas merayu cukup teguh juga, sempat terbersit ingin menyerah dan menjawab teleponnya sembari bermesraan tapi ku tahan demi tercapainya panggilan ke 50. “Yah, sekali kali lah~ biar ngecenya maksimal” ujarku dalam hati sembari membayangkan wajahnya yang cantik dan menggemaskan lagi manyun bin badmood.
                Pukul 20 : 32 akhirnya tercapai keinginan saya sesorean ini. Panggilan ke 49 sudah saya abaikan dan tak lama kemudian . .


49 missed call and finally miss you~ #eaaaaaa

                Setelah ku angkat telponnya dan melalui berbagai cobaan serta klarifikasi, ternyata oh ternyata pemirsa ini cuma salah paham semata. Pelaku dan tersangka utama yaitu dan tak lain dan tak bukan *jeng~jeng~jeng~* Mas kembar satunya lagi!!! Jengkel campur geli campur gemes campur aduk jadi satu. Saking gemesnya akhirnya keceplosan kata mutiaraku kalau lagi mangkel, lupa dan loss~ (pas waktu itu saya bilang “jangkrik” dengan nada tiga oktaf sembari gemes pengen ngrawuk pipi orang). Setelah puas nangis hua – hua dan bikin si dia panik. Akhirnya setelah clear semua problematika rumah tangga kami pun bermesraan lagi . . via telepon. :D
Point dari diary dodolku kali : kalau pacar kalian ngambek, sejelek apapun raut mukanya pas nangis mewek, usahakan merayu dengan segala cara dan intensitas sebanyak banyak. Kami (wanita) tidak melihat bentuk rayuannya tapi kami melihat kesungguhan niat ngajak baikan. Sampai jumpa di series dodol yang lainya yah vroooooo~~~ C I A O O! :3

Sabtu, 01 Maret 2014

Acak.

     Saya menyukai hujan. Mereka datang tiba tiba, mengguyur bumi dengan kasih lalu pulang dengan damai. Lalu kenapa engkau mengeluh tentang basah dan semacamnya jika ada payung dan jas hujan untuk dimanfaatkan? Kalau sudah basah ya sudah. Kadang hujan jadi begitu menghibur kala airmata menitik seraya pipiku ditepuk rintik rintik. 

   Kucing itu mahluk paling lucu selain kamu. Mereka mengeong, bergelung manja, dan sesekali menatap matamu dalam dalam seakan mencoba memahami apa yang kau coba sembunyikan. Mereka terkadang tidak mematuhimu, membuatmu sebal, dongkol dan macam macam tapi mereka jua tidak meninggalkanmu kala dirudung sedih, menemani dalam diam dan kasih sedangkan teman manusiaku lebih suka meninggalkanku tertunduk sepi.

    Saya tidak membenci kerapian. Saya hanya tidak suka kemunafikan yang bersembunyi rapat dalam kedoknya. Buat apa kamu berdandan rapi jika akhirnya kamu suka menghakimi dan mencuri uang negeri? Memaksa kerapian justru semakin membuat semua hal nampak berantakan. Dosakah menjadi tidak tertata dan tak rapi?

    Saya suka berceloteh riang, tapi saya membenci mengeluh. Mengeluh hanya melemahkanmu. Buat apa mengomentari apa yang bisa kamu ubah dan kamu antisipasi? Mengeluh hanya memberi mereka kesempatan untuk mentertawakanmu, kadang mereka peduli, tapi hanya sekadar peduli dan tidak lebih.

    Menjadi tidak biasa itu menyenangkan. Ada pikat magis didalam prosesnya. Membuatmu tetap hidup dan menikmati dari berjuta sudut yang berbeda. Sungguh tak habis pikir mengapa banyak kalian memilih hidup demi menjadi orang lain sedangkan menghabiskan waktu mengejar jati diri bisa begitu mengasyikan.

    Apa yang kau banggakan dari benda mati yang memiliki nama namun kau peroleh dengan merengek orang tuamu? Dimana letak indahnya jika akhirnya kau gunakan untuk menghina saudara manusiamu dan kau nistakan dia dalam golongan? Pola pikir membudaya masa kini yang membuatku pening kala mengingat kebengisan manusia kini tak pandang tempat. Atau waktu.

    Menyusuri tempat yang tak pernah kau singgahi itu kesempatan yang mencengangkan. Kamu dapat mengenal orang lain, kisah mereka dan kehidupan mereka dan tak lupa mengenali dirimu lebih baik lagi. Saya harus lebih sering lagi berkelana untuk selalu ingat jalan pulang.

    Saya menyukai pikiran yang terbuka lebar, tanpa simpul dan ikatan, tanpa sekat yang sesat. Bebaskan dirimu dari semua kemungkinan yang ada dan jangan biarkan engkau dijajah oleh sudut padang umum yang mengkerdilkanmu. Semua kemungkinan pasti memiliki resiko. Buat apa duduk manis dan aman tapi terdikte hingga akhir hayat, terbelenggu dan mati menyayat hati? Hidupilah hidupmu sehidup hidupnya, selagi masih hidup tentunya.

    Tanpa musik, hari akan begitu kosong. Bahkan ketika radio tidak menyala, dan pemutar lagu tidak lagi berputar, kau masih bisa bersenandung dalam kepalamu, dan mencocokannya dengan suasana hatimu. Mereka indah dan selalu menyenangkan, kemampuan mereka mengisi ruang sepi yang mencekik dan menyelamatkanmu dari jiwa yang hampa sungguh menakjubkan. Aku menyukai lagu menghentak dan melonjak dikala sedih dan memilih lagu manis dengan nada yang lambat kala hati bahagia. Selain itu mereka tidak berbeda, mereka unik dan saling mengisi. Itulah mengapa saya lebih tertarik pada orang yang mampu memetik nada dan merangkainya. Terimakasih sudah menciptakannya. 

   Kemandirian ialah belati bersisi dua. Membuatmu kuat dengan kaki yang menjejak, harap yang menolak putuskan asa namun jua melemahkanmu untuk saling berinteraksi karena ketakutan akan bergantung dan tak lagi hidup ketika inang tersebut menghilang. Kamu jadi sinis, dan menganggap semua uluran tulus hanya akan mencenderaimu. Sungguh menyebalkan mengusahakan tetap mandiri namun sekaligus menjaga uluran mereka. Seimbangkan dan kamu akan baik baik saja.

    Cinta. Ah! Membahasnya aku takkan pernah bosan. Aku suka luka yang selalu menyertainya. Menampar keras bahwa tak selamanya yang indah berdenyut begitu saja. Ia meliuk seperti angsa gemulai yang menari nari. Takkan kau taklukan dengan mudah namun jua tak terlalu runyam untuk memikatnya. Cinta nampak dimataku tak ubahnya secangkir coklat hangat yang menawarkan keteduhan dalam hari yang selalu berangin. Cangkirmu akan kosong jika meminumnya sekaligus dan juga jadi dingin jika tak segera mereguknya. Coklat tak selalu menawarkan manis, ada kalanya ia terasa pahit lamat lamat, namun ia tetaplah apa adanya coklat. Ada baiknya temukan seseorang yang selalu mengisi cangkirmu dan tersenyum hangat lagi dan lagi hingga kau tak lagi kenal jemu dan membuatmu memeluk cangkir ketika jam sibuk berdentang hingga terhenti.

    Ada banyak alasan untuk membenci suatu hal. Apalagi membenci diriku. Perlu di ingat, jika engkau memilih benci, bencilah dalam peluk kejujuran. Dusta hanya sekelumit runyam yang mencoba menghasut pandangmu. Tetaplah jernih.

                    Lewat dini hari, ketika menunjukan angka yang dibenci dan bulan hanya ada kita berdua.





Minggu, 09 Februari 2014

Bilur

Everything that can seeing by the naked eyes will fall apart.
Friendship too.
For anyone who misguided by their own blinded side that refuse to listening what the heart says,
deep down there.
Im still caring but stop stabing each other with my silences.
Its my consecuences to having you, my friend.

Saya sering kali dikecewakan dan selalu diam tidak menolak. Saya tahu saya tidak lemah, saya hanya terlalu lelah bergulat argumen pedas yang hanya menambah kepedihan di tumpukan  hari. Kalau mereka melihat saya dari kacamata yang berembun dusta, biarlah.
 Saya bukan seorang kawan yang baik, saya hanya mampu mendengar dan terkadang mengomentari seraya mengingatkan apa yang mereka tidak ingin dengar dari mulut lugas tanpa tendeng aling aling aling ini. Buat apa saya membuai kamu dengan lantunan pujian jikalau akhirnya itu membuatmu lemah dan termakan harapan palsu kehidupan ini?
Mungkin kata kata yang tidak sesuai harapan ini membuatmu dengki dan membenciku. Tak apa. Toh, aku tak selamanya hidup untuk menyenangkan hatimu semata. Silahkan hina dan caci saya jika itu dapat menyenangkan hatimu yang letih.  Sudah terbiasa ku di sayat perih.
Seringkali mereka hanya menafsirkan apa yang kasat mata dan melupakan nurani yang mengalun sunyi. Sungguh aku menyayangi kalian seperti akan kulepaskan nafas demi kamu jika itu yang diperlukan. Tapi mereka tidak melihat dunia dari sisi apa yang ku lihat saat ini. Dan lagi, aku hanya menuai sepi di pojok temaram.
Mereka melupakan tawa bersama yang kita rajut dulu semudah membakar kertas di udara kosong. Mereka menghapus pedih yang kutuai demi senyum di raut itu semudah melempar pasir di lautan.
Mereka memilih untuk tidak mengingatnya demi hati yang dibutakan emosi.
Dan hanya kepada NYA aku tersenyum dan meniti harap dalam derap, semoga suatu saat nanti kau tak lagi dibutakan apa yang teguh kamu benci.
Mungkin ini karma.
Mungkin jua ini ujian.
Mungkin saja ini satu dari miliaran kemungkinan.
Hidup saya terlalu singkat tuk dihabiskan membalas ketidaksukaan yang relatif tersebut.
Terima kasih untuk bilur yang membekas ini


                                                                                                                                               
                                                                                         Sore itu, kala senja tak lagi memeluk manja.