Minggu, 09 Februari 2014

Bilur

Everything that can seeing by the naked eyes will fall apart.
Friendship too.
For anyone who misguided by their own blinded side that refuse to listening what the heart says,
deep down there.
Im still caring but stop stabing each other with my silences.
Its my consecuences to having you, my friend.

Saya sering kali dikecewakan dan selalu diam tidak menolak. Saya tahu saya tidak lemah, saya hanya terlalu lelah bergulat argumen pedas yang hanya menambah kepedihan di tumpukan  hari. Kalau mereka melihat saya dari kacamata yang berembun dusta, biarlah.
 Saya bukan seorang kawan yang baik, saya hanya mampu mendengar dan terkadang mengomentari seraya mengingatkan apa yang mereka tidak ingin dengar dari mulut lugas tanpa tendeng aling aling aling ini. Buat apa saya membuai kamu dengan lantunan pujian jikalau akhirnya itu membuatmu lemah dan termakan harapan palsu kehidupan ini?
Mungkin kata kata yang tidak sesuai harapan ini membuatmu dengki dan membenciku. Tak apa. Toh, aku tak selamanya hidup untuk menyenangkan hatimu semata. Silahkan hina dan caci saya jika itu dapat menyenangkan hatimu yang letih.  Sudah terbiasa ku di sayat perih.
Seringkali mereka hanya menafsirkan apa yang kasat mata dan melupakan nurani yang mengalun sunyi. Sungguh aku menyayangi kalian seperti akan kulepaskan nafas demi kamu jika itu yang diperlukan. Tapi mereka tidak melihat dunia dari sisi apa yang ku lihat saat ini. Dan lagi, aku hanya menuai sepi di pojok temaram.
Mereka melupakan tawa bersama yang kita rajut dulu semudah membakar kertas di udara kosong. Mereka menghapus pedih yang kutuai demi senyum di raut itu semudah melempar pasir di lautan.
Mereka memilih untuk tidak mengingatnya demi hati yang dibutakan emosi.
Dan hanya kepada NYA aku tersenyum dan meniti harap dalam derap, semoga suatu saat nanti kau tak lagi dibutakan apa yang teguh kamu benci.
Mungkin ini karma.
Mungkin jua ini ujian.
Mungkin saja ini satu dari miliaran kemungkinan.
Hidup saya terlalu singkat tuk dihabiskan membalas ketidaksukaan yang relatif tersebut.
Terima kasih untuk bilur yang membekas ini


                                                                                                                                               
                                                                                         Sore itu, kala senja tak lagi memeluk manja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar