Sabtu, 01 Maret 2014

Acak.

     Saya menyukai hujan. Mereka datang tiba tiba, mengguyur bumi dengan kasih lalu pulang dengan damai. Lalu kenapa engkau mengeluh tentang basah dan semacamnya jika ada payung dan jas hujan untuk dimanfaatkan? Kalau sudah basah ya sudah. Kadang hujan jadi begitu menghibur kala airmata menitik seraya pipiku ditepuk rintik rintik. 

   Kucing itu mahluk paling lucu selain kamu. Mereka mengeong, bergelung manja, dan sesekali menatap matamu dalam dalam seakan mencoba memahami apa yang kau coba sembunyikan. Mereka terkadang tidak mematuhimu, membuatmu sebal, dongkol dan macam macam tapi mereka jua tidak meninggalkanmu kala dirudung sedih, menemani dalam diam dan kasih sedangkan teman manusiaku lebih suka meninggalkanku tertunduk sepi.

    Saya tidak membenci kerapian. Saya hanya tidak suka kemunafikan yang bersembunyi rapat dalam kedoknya. Buat apa kamu berdandan rapi jika akhirnya kamu suka menghakimi dan mencuri uang negeri? Memaksa kerapian justru semakin membuat semua hal nampak berantakan. Dosakah menjadi tidak tertata dan tak rapi?

    Saya suka berceloteh riang, tapi saya membenci mengeluh. Mengeluh hanya melemahkanmu. Buat apa mengomentari apa yang bisa kamu ubah dan kamu antisipasi? Mengeluh hanya memberi mereka kesempatan untuk mentertawakanmu, kadang mereka peduli, tapi hanya sekadar peduli dan tidak lebih.

    Menjadi tidak biasa itu menyenangkan. Ada pikat magis didalam prosesnya. Membuatmu tetap hidup dan menikmati dari berjuta sudut yang berbeda. Sungguh tak habis pikir mengapa banyak kalian memilih hidup demi menjadi orang lain sedangkan menghabiskan waktu mengejar jati diri bisa begitu mengasyikan.

    Apa yang kau banggakan dari benda mati yang memiliki nama namun kau peroleh dengan merengek orang tuamu? Dimana letak indahnya jika akhirnya kau gunakan untuk menghina saudara manusiamu dan kau nistakan dia dalam golongan? Pola pikir membudaya masa kini yang membuatku pening kala mengingat kebengisan manusia kini tak pandang tempat. Atau waktu.

    Menyusuri tempat yang tak pernah kau singgahi itu kesempatan yang mencengangkan. Kamu dapat mengenal orang lain, kisah mereka dan kehidupan mereka dan tak lupa mengenali dirimu lebih baik lagi. Saya harus lebih sering lagi berkelana untuk selalu ingat jalan pulang.

    Saya menyukai pikiran yang terbuka lebar, tanpa simpul dan ikatan, tanpa sekat yang sesat. Bebaskan dirimu dari semua kemungkinan yang ada dan jangan biarkan engkau dijajah oleh sudut padang umum yang mengkerdilkanmu. Semua kemungkinan pasti memiliki resiko. Buat apa duduk manis dan aman tapi terdikte hingga akhir hayat, terbelenggu dan mati menyayat hati? Hidupilah hidupmu sehidup hidupnya, selagi masih hidup tentunya.

    Tanpa musik, hari akan begitu kosong. Bahkan ketika radio tidak menyala, dan pemutar lagu tidak lagi berputar, kau masih bisa bersenandung dalam kepalamu, dan mencocokannya dengan suasana hatimu. Mereka indah dan selalu menyenangkan, kemampuan mereka mengisi ruang sepi yang mencekik dan menyelamatkanmu dari jiwa yang hampa sungguh menakjubkan. Aku menyukai lagu menghentak dan melonjak dikala sedih dan memilih lagu manis dengan nada yang lambat kala hati bahagia. Selain itu mereka tidak berbeda, mereka unik dan saling mengisi. Itulah mengapa saya lebih tertarik pada orang yang mampu memetik nada dan merangkainya. Terimakasih sudah menciptakannya. 

   Kemandirian ialah belati bersisi dua. Membuatmu kuat dengan kaki yang menjejak, harap yang menolak putuskan asa namun jua melemahkanmu untuk saling berinteraksi karena ketakutan akan bergantung dan tak lagi hidup ketika inang tersebut menghilang. Kamu jadi sinis, dan menganggap semua uluran tulus hanya akan mencenderaimu. Sungguh menyebalkan mengusahakan tetap mandiri namun sekaligus menjaga uluran mereka. Seimbangkan dan kamu akan baik baik saja.

    Cinta. Ah! Membahasnya aku takkan pernah bosan. Aku suka luka yang selalu menyertainya. Menampar keras bahwa tak selamanya yang indah berdenyut begitu saja. Ia meliuk seperti angsa gemulai yang menari nari. Takkan kau taklukan dengan mudah namun jua tak terlalu runyam untuk memikatnya. Cinta nampak dimataku tak ubahnya secangkir coklat hangat yang menawarkan keteduhan dalam hari yang selalu berangin. Cangkirmu akan kosong jika meminumnya sekaligus dan juga jadi dingin jika tak segera mereguknya. Coklat tak selalu menawarkan manis, ada kalanya ia terasa pahit lamat lamat, namun ia tetaplah apa adanya coklat. Ada baiknya temukan seseorang yang selalu mengisi cangkirmu dan tersenyum hangat lagi dan lagi hingga kau tak lagi kenal jemu dan membuatmu memeluk cangkir ketika jam sibuk berdentang hingga terhenti.

    Ada banyak alasan untuk membenci suatu hal. Apalagi membenci diriku. Perlu di ingat, jika engkau memilih benci, bencilah dalam peluk kejujuran. Dusta hanya sekelumit runyam yang mencoba menghasut pandangmu. Tetaplah jernih.

                    Lewat dini hari, ketika menunjukan angka yang dibenci dan bulan hanya ada kita berdua.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar